Biarkan air mata ini mengalir bersama dengan dosa-dosa yang teringat. Lelapkan semua kesemuan dunia yang hanya sementara. Bukalah sedikit matamu untuk melihat dunia yang abadi, telungkupkanlah tanganmu untuk memberi... Berikan senyummu agar orang lain merasakan kabahagiaanmu... mari lukis perasan hati mencintaiNya dengan keimanan dan ketakwaan. Bismillah...

Jumat, 14 Januari 2011

Masihkah Hari ini Engkau Sabar...??

                                                                          Pagi ini kita mulai hari dengan sedikit ujian dari-Nya, Jam didinding menunjuk angka 04:45, samar terdengar adzan subuh sudah berkumandang “ Assholatu khoiru minna naum …”.terdengar merdu, bahkan saking merdunya terkadang yang masuk ketelinga kita menjadi " Annauma khoiru minnassholah..." bukan begitu ?. ujian kecil pertama haruskah kita tarik kembali selimut ditubuh kita ?.Sementara orang lain sudah berduyun-duyun menuju Masjid Baiturrohman, Al-Furqon dan Fathul Khoir.Setelah sejenak bergulat dengan kantuk, akhirnya.. dengan sedikit malas kitapun  bangun, dengan terpaksa dan mata masih setengah terpejam kita ambil air wudlu. Ternyata…diluar turun hujan meski tak begitu lebat. Ujian kecil kedua untuk kita, haruskah berjamaah di masjid,atau….sholat subuh dirumah saja kemudian tidur lagi, bukankah esok masih banyak waktu untuk pergi ke masjid ?
     Saudaraku, sahabatku..Skenario Allah itu sangat indah, apapun yang terjadi pada kita..walaupun itu berat, walaupun itu pahit dan menyakitkan hati..dan bahkan terkadang membuat kita sengsara..Jalanilah dengan tabah, Tetap bergembiralah, karena Sang Sutradara Hidup sedang melewatkan kita di jalan yang TERBAIK untuk kita...
Semua akan menjadi indah pada saatnya..,

    Dari Suhaib r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mukmin; yaitu
jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi
dirinya.” (HR. Muslim).


Dan Alloh pun berfirman ;
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّـٰبِرِينَ
"Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan [kepada Allah] dengan sabar dan [mengerjakan] shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar". (Al-Baqoroh :153)
وَأَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُ ۥ وَلَا تَنَـٰزَعُواْ فَتَفۡشَلُواْ وَتَذۡهَبَ رِيحُكُمۡ‌ۖ وَٱصۡبِرُوٓاْ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّـٰبِرِينَ
"Dan ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar". (Al-Anfal :46)
    Berdo'a dan bersabarlah atas segala yang terjadi dan menimpa dalam hidupmu.
Tak ada do'a dan permohonan yang sia-sia, karena sesungguhnya Allah akan menjawab sebuah doa kita melalui 3 jalan:
Pertama :Dia berkata “Ya”, dan memberi apa yang engkau pinta...kaupun bergembira karena merasa alloh sayang kepadamu.
Kedua    : Dia berkata “Tidak” dan memberimu sesuatu yang lebih baik dari yang kamu minta…Kau katakan Alloh tak menyayangiku, padahal itu hanya karena mata kita tak melihat apa yang telah Ia berikan pada kita.
Ketiga    :Dia berkata Sabar, dan akan memberimu hal yang paling baik..
وَقَالَ رَبُّڪُمُ ٱدۡعُونِىٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِى سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَدَاخِرِينَ
Dan Tuhanmu berfirman: "Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku [1] akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina". (Al-Mu’min / Al-Ghofir : 60)
Sabda Rasulallah Saw:
“Tidak ada seorang muslim yang berdoa melainkan akan dikabulkan, ada kalanya disegerakan didunia, ada kalanya disimpankannya untuknya di akhirat. Dan ada kalanya digunakan untuk menghapuskan dosa-dosanya sesuai dengan kadar doa yang ia ucapkan selama ia tidak berdoa untuk dosa atau memutuskan tali persaudaraan”.
Dan beliaupun bersabda:
“Nanti pada hari kiamat Allah Swt akan memperlihatkan setiap doa yang dipanjatkan oleh setiap orang sewaktu di dunia yang tidak Allah kabulkan, dimana Allah berfirman: Hambaku, pada suatu hari kamu memanjatkan doa kepadaku, namun Aku tahan doamu itu, maka inilah pahala sebagai pengganti doamu itu”.  Orang yang berdoa itu terus menerus diberi pahala sehingga ia berharap kiranya semua doanya itu hanya dibalas di akhirat saja dan tidak diberikan di dunia”.

Saudaraku, bersyukurlah akan segala ni’mat yang telah Alloh berikan Pada kita.
Kita diberi keluarga dan anak-anak yang manis, tapi terkadang kita meradang karena kegaduhan malaikat-malaikat kecil itu mengganggu tidur siang kita.
Kita diberi pekerjaan yang baik, tapi terkadang tak ada syukur yang kita panjatkan.
Kita diberi saudara dan sahabat-sahabat yang perhatian, pemaaf, penuh cinta dan kasih, namun terkadang kita angkuh dan menyakiti..
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?.....( Ar-Rohman :…)
Dimanakah kesabaran kita, kala kegaduhan anak-anak menambah pusing  karena tugas yang menumpuk hingga membuat kita meradang. Dimana kesabaran kita kala sahabat menasehati kita, kala saudara mengingatkan kita, hanya karena kedudukan kita lebih baik dari mereka.sehingga kita tak acuh.
     Kehendak Alloh itu terkadang terlihat sulit bagi kita, pemahaman kita yang dangkal membuat kita mudah berputus asa, padahal Alloh telah berkata” Tak ada dari umatku yang berputus asa, kecuali dari golongan orang-orang kafir”
Saudaraku, sahabatku. Janji Alloh adalah Pasti, maka mari jadikan sisa-sisa hidup kita lebih bermakna, mari mulai dari diri kita, keluarga kita dan saudara-saudara kita.
Dekap malaikat-malaikat dan bidadari-bidadari kecil kita, katakan pada mereka” maafkan ketidak sabaran ayah/ibu”
Jabat erat tangan saudara-saudara kita, sahabat kita dan katakan “ saudaraku, sahabatku, maafkan atas keacuhanku,maafkan keegoanku.maafkan atas kesombonganku”
Sahabat…janganlah engkau berjalan di depanku, karena aku mungkin tak dapat mengikutimu..
Janganlah pula engkau berjalan di belakangku, karena Aku mungkin tak dapat membimbingmu...
Tapi,..Berjalanlah seiring bersamaku,..
dan...jadilah temanku, jadilah saudaraku yang hanya dipertemukan dan dipisahkan oleh dien-Nya yang haq….Al-Islam...

Salam hangat selalu ……

Sebuah renungan diri diantara tumpukan maksiat dan dosa…………….(SRT)

Minggu, 09 Januari 2011

Mewaspadai " EMPAT PERKARA "

    Hari ini adalah hari teramat "istimewa " buat saya, karena sore tadi saya baru saja bertemu dan sharing dengan seorang sahabat yang "Luar biasa" selama hampir 1,5 jam. Bukan sharing sih, mungkin lebih tepatnya "beliau" memberi wejangan dan petuah kepada saya. Meski kami sudah saling mengenal  lebih dari 10 tahunan, tapi karena sibuknya beliau sehingga baru sore tadi kami sempat "ngobrol" panjang kali lebar. Wejangan dan petuahnya mengalir bak air sungai yang mengalir tenang namun pasti. Ada satu petuah beliau yang membuat saya merenung, Beliau berkata;"Banyak rekan-rekan kita yang nampak sukses,nampak sempurna secara materi maupun dalam karir,. Namun jangan kira mereka sudah bahagia, karena 'bahagia' itu akan terasa manakala kita 'merasa' bermanfaat bagi orang lain dan perasaan tidak 'gersang', karena kita selalu iklas dalam ' berkarya' dan beribadah".
    Sobat, tidak cukup saya tuliskan disini semua petuah-petuah yang diberikan sahabat 'luar biasa' saya sore tadi. Namun berkait dengan kata "BAHAGIA"yang disampaikan sahabat tsb, saya kemudian membaca dan mencoba mengkaitkan dengan aktivitas kita sehari-hari dan dengan hubungan vertikal kita kepada Alloh..Lalu, pertanyaanya adalah ; Sudahkah kita merasa 'bahagia' ??.

    Kebahagiaan, sebuah kata yang didambakan oleh setiap mahluk yang bernama Manusia. Siapapun manusia yang hidup didunia ini hakekatnya adalah mencari kebahagiaan. Ada yang mencari bahagia di kantor, di warung kopi, di mall,di pasar atau dimana saja. Mungkin ada yang bahagia saat membeli mobil baru, saat membeli perhiasan baru, dan ada yang merasa bahagia saat menerima gaji. Ada yang merasa bahagia karena memiliki teman-teman banyak, memiliki tetangga-tetangga yang baik, bahkan ada yang memiliki rasa bahagia hanya karena mendapat telepon dari orang yang dicintai. Tapi beberapa rasa 'bahagia' diatas sifatnya hanya 'sementara'.
     Siapapun berhak memiliki rasa bahagia, karena memang bahagia itu milik siapa saja, baik yang kaya maupun yang miskin, yang berpangkat maupun tidak, yang tua maupun muda, yang memiliki jabatan tinggi maupun rendah dan lain sebagainya. Intinya, semua berhak mendapatkan sesuatu yang bernama BAHAGIA, karena hakekat bahagia adalah mendapatkan sesuatu yang diinginkan.
    Tetapi sobat, cobalah tengok aktivitas keseharian kita. Pagi-pagi sekali, usai sholat subuh berjama’ah dimasjid maupun berjamah dengan istri dan anak-anak dirumah, telepon mulai berdering, televisi menginformasikan bursa efek dan valuta asing, bahkan terkadang sepagi itu televisi telah menyuguhkan berita kriminalitas atau mungkin infotaimen yang membeberkan rahasia keluarga seorang artis dll. Sedangkan al-Qur’an nyaris kita tinggalkan, ia bertengger rapi dirak-rak lemari paling atas, kita enggan mereview ulang bacaan kita, tajwid kita. Seolah kita lupa , atau..jangan-jangan kita tidak pernah tahu terhadap perintah Rasululloh : Sinarilah rumahmu dengan bacaan Al-Qur’an.
    Sobatku, saudaraku tercinta ingatkah kita akan perkataan Rosululloh bahwa : Jika hak-hak Alloh tersisihkan dari hati kita, maka sesungguhnya Alloh akan menumbuhkan EMPAT PERKARA pada diri kita.
Rasululloh bersabda : Barang siapa yang pada pagi harinya menjadikan dunia sebagai konsentrasi yang utama, dan sama sekali tak memperhatikan hak-hak Alloh, niscaya alloh akan menumbuhkan empat perkara kepadanya Partama : Keinginan yang tiada pernah habis-habisnya. Kedua : Kesibukan yang serasa tak pernah terselesaikan olehnya. Ketiga : Kebutuhan yang tiada berujung. Ke empat : angan-angan yang tidak pernah tercapai. (HR.Dailami)
   Hal tersebut terjadi karena konsentrasi kita belum seimbang, namun saudaraku ingatlah bahwa; sesungguhnya segala sesuatu itu bisa kita biasakan. Cara yang efektif untuk menghindari keempat penyakit tersebut adalah sbb; Ketika kita makan, seyogyanya diniatkan untuk mengisi ulang energi dalam rangka beribadah kepada Alloh. Manakala kita hendak bekerja, lafadzkan niat bahwa bekerja adalah perintah Alloh yang wajib dilaksanakan untuk menafkahi istri dan keluarga. Ketika engkau mencari teman, niatkanlah bahwa pertemanan ini adalah karena Alloh dalam rangka Ukhuwah Islamiyah
Dengan demikian, bekerja atau aktivitas apapun yang kita tujukan untuk kepentingan keluarga dan masyarakat, InsyaAlloh akan  bernilai ibadah disisi Alloh SWT.
وَقُلِ ٱعۡمَلُواْ فَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمۡ وَرَسُولُهُ ۥ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ‌ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَـٰلِمِ ٱلۡغَيۡبِ وَٱلشَّہَـٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ (١٠٥)
Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada [Allah] Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan".( QS:At-Taubah:105)

   Bekerja adalah nikmat Alloh yang wajib kita syukuri, lalu seperti apakah wujud syukur kita akan pekerjaan kita. Yang lazim di pesankan para ustad dan ustadzah. Rasa syukur tersebut diaplikasikan dengan menyumbangkan sebagian kecil harta yang kita peroleh kepada orang yang berhak menerimanya. Karena sesungguhnya dalam harta kita ada hak-hak orang lain yang wajib kita tunaikan. Dalam beberapa hadist disebutkan bahwa mendermakan harta merupakan salah satu upaya untuk membersihkan harta dari hal-hal yang mengandung syubhat, menolak mala petaka dan bencana serta penyakit, serta akan mendatangkan rezeki yang lebih berkah disamping menderma adalah menggembirakan saudara sesama muslim ( idkhalus suruur lil mu’minin…dari suatu sumber/Red)).
   Sebagian dari kita beranggapan bahwa sedekah itu hanya berupa barang/harta, namun sebenarnyalah sedekah itu hakekatnya adalah segala sesuatu kebaikan yang kita berikan dan bermanfaat bagi orang lain. Bisa berupa harta benda, makanan, sandang, ilmu bahkan berupa nasehat atau ajakan. Sehingga, sedekah itu tak hanya kita peruntukkan bagi fakir miskin, tetapi bisa kepada siapa saja yang menbutuhkan, saudara,tetangga, sahabat dan lain sebagainya.
   Dengan demikian keempat penyakit tadi dapat kita hindarkan dari kehidupan kita segala keinginan pasti terbatas karena hanya Alloh semata yang tiada batasnya, kesibukan akan terselesaikan, karena alloh senantiasa memberikan inayah (pertolongan) pada hambanya. Kebutuhan akan terpenuhi, karena alloh senantiasa memberkahi, dan tidak ada angan-angan yang lebih mulia selain mengharap Ridlho Alloh SWT.

  Saudaraku, darinya, marilah kita mulai kehidupan hari ini dan esok dengan membiasakan segala aktivitas kita hanya kita tujukan untuk mendapat Ridlho dari Nya, yang memiliki jiwa dan ruh kita ditanganNya. Semoga 'rasa' bahagia itu senantiasa ada dalam hati kita.

Terkhusus untuk sahabat 'luarbiasa' saya, terimakasih yang tak terhingga atas semua petuahnya, Sahabat...tadi sore saya serasa berhadapan dengan seorang BEGAWAN......terimakasih atas buku-nya, dan...jangan bosan baca e-mail saya.

Salam Hangat...........
BSD......... Sebuah renungan dari Kenyataan Hidup.....(SRT)

Sabtu, 08 Januari 2011

Yang Datang dengan KEBAIKAN..!!

           Bagaimanakah jadinya jika sifat malu telah luntur bahkan hilang sama sekali dari diri kita, sungguh..hidup tiada harganya lagi. Dijaman yang kian semrawut ini Tak sedikit wanita yang telah menanggalkan rasa malunya. Dari caranya berbusana, bergaul, dan gaya hidup ‘modern’ lainnya, hal-hal tersebut setidaknya memberikan gambaran fenomena dimaksud. Padahal, Islam telah menjadikan sifat malu ini sebagai sifat mulia, bahkan merupakan salah satu cabang keimanan.

    Sifat malu memang identik dengan wanita karena merekalah yang dominan memilikinya. Namun sebenarnya sifat ini bukan hanya milik kaum hawa. Laki-laki pun disukai bila memiliki sifat malu. Bahkan sifat mulia ini selain termasuk salah satu cabang keimanan, malu juga menjadi salah satu faktor kebahagiaan seorang insan. Karena dengan sifat ini, hanya kebaikanlah yang bakal diraupnya, sebagaimana sabda Rosul SAW :
الْحَيَاءُ لاَ يَأْتِي إِلاَّ بِخَيْرٍ
“Malu itu tidaklah datang kecuali dengan kebaikan.”
الْحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ
“Malu itu baik seluruhnya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim)
       Adanya sifat malu pada diri seseorang akan mendorongnya kepada kebaikan dan mencegahnya dari kejelekan. Bila malu ini hilang dari diri seseorang, ia akan jatuh dalam perbuatan maksiat dan dosa, ketika sendirian maupun di hadapan kerabat dan tetangga. Karena itulah bersabda Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam:
إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأْوْلَى: إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَافْعَلْ مَا شِئْتَ
“Termasuk yang diperoleh manusia dari ucapan kenabian yang pertama adalah: jika engkau tidak malu, berbuatlah sekehendakmu.” (Shahih, HR. Al-Bukhari)

Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat pemalu sehingga shahabat yang mulia Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu berkata:
كَانَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشَدُّ حَيَاءً مِنَ الْعُذَرَاءِ فِي خِدْرِهَا
“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat pemalu dibandingkan dengan gadis perawan yang berada dalam pingitannya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim)

   Semoga Allah merahmati Abu Sa’id Al-Khudri, di mana beliau membuat permisalan untuk kita dengan gadis perawan. Lalu apa gerangan yang akan beliau katakan bila melihat pada hari ini gadis perawan itu telah menanggalkan rasa malunya dan meninggalkan tempat pingitannya? Ia pergi keluar rumahnya dengan hanya ditemani sopir pribadi. Ia pergi ke pasar, berbincang-bincang akrab dengan para pedagang dan penjahit, dan sebagainya. Demikian kenyataan pahit yang ada.

Sebagian kaum muslimin juga membiarkan putri-putri mereka bercampur baur dengan laki-laki di sekolah-sekolah dan di tempat kerja. Karena telah tercabut dari mereka rasa malu dan sedikit ghirah (kecemburuan) yang tertinggal.
    Bila malu ini telah hilang dari diri seorang insan, ia akan melangkah dari satu kejelekan kepada yang lebih jelek lagi, dari satu kerendahan kepada yang lebih rendah lagi. Karena malu pada hakekatnya adalah menjauhkan diri dari hal-hal yang Allah ta`ala haramkan dan menjaga anggota tubuh agar tidak digunakan untuk bermaksiat kepada-Nya. Apakah pantas seseorang disifati malu sementara matanya digunakan untuk melihat perkara yang Allah haramkan? Apakah pantas dikatakan malu, bila lidah masih digunakan untuk ghibah, mengadu domba, dusta, mencerca, dan mengumpat? Apakah pantas digelari malu, bila nikmat berupa pendengaran digunakan untuk menikmati musik dan nyanyian?

Saudaraku… wajib bagi kita untuk terus merasakan pengawasan Allah dan malu kepada-Nya di setiap waktu dan tempat.

Kala dikau sendiri dalam kegelapan dan jiwa mengajakmu tuk berbuat nista, Maka malulah dikau dari pandangan Al-Ilah, Dan katakan pada jiwamu:
" Dzat yang menciptakan kegelapan ini senantiasa melihatku "
    Seorang muslim yang jujur dalam keimanannya akan merasa malu kepada Allah jika melanggar kehormatan orang lain dan mengambil harta yang tidak halal baginya. Sementara orang yang telah dicabik tirai malu dari wajahnya, ia akan berani kepada Allah dan berani melanggar larangan-Nya.

Saudariku muslimah… bila engkau telah mengetahui pentingnya sifat malu, maka berupayalah untuk menumbuhkannya di hati keluarga dan anak-anak. Karena ketika malu ini masih ada, maka akan terasa betapa besar dan jelek perbuatan yang mungkar, sementara kebaikan senantiasa mereka agungkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melewati seseorang yang tengah mencela saudaranya karena sifat malunya, maka beliau bersabda:
دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنَ الإِيْمَانِ
“Biarkan dia, karena malu itu termasuk keimanan.” (HR. Al-Jama`ah)
       Saudaraku… perlu engkau ketahui bahwa Allah tidaklah malu dari kebenaran. Maka bukan termasuk sifat malu bila engkau diam ketika melihat kebatilan, engkau enggan menolong orang yang terzalimi, dan berat untuk mengingkari kemungkaran. Dan bukan pula termasuk sifat malu bila engkau tidak mau bertanya tentang perkara agama yang samar bagimu, karena Allah ta`ala berfirman:
فَسْأَلُوْا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ
“Maka tanyakanlah kepada ahlu dzikr (orang yang memiliki ilmu), jika kalian tidak mengetahui.” (An-Nahl: 43)
   Ketahuilah wahai saudariku…tidak sepantasnya kita malu dari suatu perkara yang bisa membawa kepada kebaikan. Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu menceritakan: “Datang seorang wanita menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam guna menawarkan dirinya kepada beliau agar diperistri oleh beliau. Wanita itu berkata: “Apakah engkau, wahai Rasulullah, punya keinginan terhadap diriku?”
  Seorang putri Anas, ketika mendengar kisah ini, berkomentar tentang wanita itu: “Alangkah sedikit rasa malunya!”
Anas berkata: “Wanita itu lebih baik darimu, dia menawarkan diri kepada orang yang paling mulia dan paling baik (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam).” (Shahih, HR. Al-Bukhari secara makna)

Semoga Allah senantiasa menganugerahkan kepada kita sifat malu yang membawa kita untuk selalu berbuat baik dan mencegah dari kejahatan dan kerendahan akhlak. Amin…!

Kamis, 06 Januari 2011

Ajari aku tentang kebaikan Ayah, Bunda...!!

       “Ibuuu,ayah…itu nah, mas ngomong jelek” dengan sedikit dialek “bugis”nya (maklum anak bontang), kerap sekali anak keduaku yang masih tiga tahun itu mengadukan kakaknya yang kadang ngomong “jelek”, beberapa kata “jelek”memang telah diketahui sikecil, namun terkadang kata-kata asing yang baru didengarnya juga dianggap “jelek”. Sehingga ketika kakaknya yang sudah duduk di kelas 4 SD YPK itu meneriakkan sesuatu dengan nada tinggi , sikecil akan cepat-cepat bereaksi dan mengadukan pada kami.
       
     Darimana Kebaikan dan keburukan itu muncul ?, jangan Kaget apabila suatu saat sikecil yang baru beberapa hari masuk PlayGroup tiba-tiba berteriak dengan makian dan umpatan kasar keluar dari bibir mungilnya. Mereka tak akan bisa mengumpat tanpa pernah melihat seseorang melakukanya. Sebagaimana dia tak akan bisa berbicara tanpa pernah mendengar orang lain berbicara. Ingat Ayah,Bunda. Bidadari kecil dan malaikat kecil kita adalah "peniru" sejati.

     Mungkin,  melihat buah hati yang saling melempar ejekan, itu hal biasa bagi Anda. Hanya sebuah guyonan belaka, tanpa bermaksud serius. Namun, seketika hal yang Anda anggap biasa itu berubah memanas. "Hentikan bertengkar!," Anda lalu berteriak, namun saking asyiknya mereka tak lagi mengabaikan peringatan Anda. Pemandangan saling dorong dan beradu fisik pun tak lagi bisa dihindari.
     Lalu, bagaimana Anda bisa mendidik buah hati, menjadi anak yang baik, yang selalu bisa menjaga, menghormati dan menghargai teman atau saudara-saudaranya?. Semuanya tentu tak serta merta Anda lakukan seperi sebuah sihir, mengucap mantra dan lalu buah hati Anda berubah perangai, menjadi lembut dan sangat penurut.
Tentu saja, butuh keterlibatan intensif dari Anda sebagai orang tua, untuk mengemas mereka menjadi pribadi yang baik.
Berikut Tips yang saya rangkum dari berbagai artikel :

1. Jadilah teladan
     Sebagai orang tua, Anda mungkin tidak sempurna. Ada "kebiasaan buruk" yang tanpa sengaja terlihat dan ditiru buah hati Anda. Ingatkah diri Anda yang suka berteriak, bicara kasar, atau melakukan kekerasan fisik?. Hal-hal negatif ini terlihat nyata dan dekat dengan keseharian mereka. Seperti ungkapan "buah jatuh tak jauh dari pohonnya", jangan kaget jika mereka pun lantas mengeksplorasi perilaku tersebut.
Jika Anda ingin mengemas buah hati Anda menjadi pribadi yang baik, maka contohkan sikap yang baik kepada mereka. Jadilah teladan dan panutan bagi mereka. Mulailah juga untuk belajar mengendalikan diri dan emosi, terutama bagi Anda yang berkepribadian keras.

2. Menjaga intonasi suara
    Ketika Anda mulai kehilangan kesabaran, terkadang Anda mulai berteriak. Saat Anda berdebat dengan pasangan pun, tak sadar, Anda meninggikan nada suara. Segeralah ubah kebiasaan Anda, sepayah apapun Anda menghadapi hari-hari sibuk, tetaplah menghargai dan menghormati pasangan, dengan tidak berteriak atau berbicara kasar padanya di depan buah hati Anda. Mungkin … anda akan mengatakan “marah kalau ditahan jadi darah tinggi”.Bukan !, hal itu karena memang sejak awal anda tidak bisa memanag emosi, sesuatu hal bisa kita lakukan kalau kita mencoba dan terus mencoba.

3. Belajar sopan santun
    Terapkanlah aturan di dalam rumah. Bahwa saat Anda atau pasangan membutuhkan bantuan, mintalah dengan cara halus. Tak sulit kan jika meminta dengan diawali dengan kata "Tolong,..", dan tak lupa mengucapkan "Terima kasih.." di akhir permintaan? Ajarkan dan contohkan hal ini sedini mungkin pada si kecil, dan Anda akan menjadi orang tua yang bangga memiliki buah hati yang berperilaku sopan.

4. Mendorong empati
    Manusia tak ada yang sempurna, begitu juga Anda dan mereka, si buah hati dengan segala kepolosannya. Saat mereka membuat kesalahan, hingga melukai diri sendiri atau tersandung masalah, alih-alih membuat mereka tegar dan berhenti menangis, Anda menguatkan mereka, "itulah hidup, sayang, tak selalu bahagia, ada saatnya kamu sedih atau terluka..dan meski itu sakit, kuatlah!"
Penunjukan kasih dan cinta Anda dengan verbal halus seperti ini justru akan memberinya kekuatan, daripada sekedar omelan bernada kasar. Ini penting, karena mereka perlu tahu, bahwa Anda mencintai mereka, lebih dari apapun di dunia ini. Jadi, jangan lupa untuk selalu mengucapkan "mama sayang kamu, nak" setiap hari, setiap waktu.

5. Hadiah untuk sebuah kebaikan
    Ini bukan berarti Anda harus menyuap si kecil, demi membuat mereka bersikap manis dan baik. Tak perlu dengan kado mahal, pujilah si kecil saat mereka melakukan sebuah kebaikan. Pujian ini akan menumbuhkan sikap-sikap positif dalam diri mereka, karena penunjukan sikap baiknya telah membuat orang tua bangga.

6. Berlatih Mengenal dan Memahami Tetangga
    Apakah anda termasuk orang yang rajin ikut kegiatan RT ? atau justru anda orang yang paling enggan ikut kegiatan RT ? Jika jawaban pertama “ya”, maka berbahagialah karena anda telah memiliki modal besar untuk mengajari putra-putri anda mengenal tetangga. Disinilah perlunya anda tanamkan kepada putra-putri anda, bahwa tetangga adalah saudara kita yang terdekat. Sehingga suatu saat kita pasti akan membutuhkan mereka. Dengan demikian jika sibuah hati suka berteriak, anda bisa mengatakan “ jangan berteriak, mengganggu tetangga “. Sikecil akan tahu, oh tetangga yang namanya si A, si B dll.
  
   Namun jika anda termasuk orang yang jarang sekali aktif dalam kegiatan RT, maka segala sesuatu …ternyata harus dimulai dari diri anda sendiri.bagaimana mungkin anda bisa mengajari putra-putri anda untuk menghargai orang lain, jika anda sendiri tidak paham anda tinggal dimana, siapa dan seperti apa tetangga anda. Yakinlah sikap menutup diri anda akan menjadi perbincangan tetangga, mereka akan berspekulasi tentang anda.( Oke..untuk hal ini kita bahas dilain waktu ).
    
   Ayah-Bunda, Sahabatku,  Saudaraku .  Sudah menjadi tugas dan tanggung jawab, Anda, kita sebagai orang tua, untuk mengajarkan kebaikan pada si kecil sejak dini. Itu bukan tugas pembantu atau TPA (Tempat penitipan Anak). Sekali lagi. itu adalah tugas Kita. Dan marilah kita ciptakan dunia penuh cinta bagi mereka, sang anak-anak masa depan....................................................( NN / CN19 /SRT )

Selasa, 04 Januari 2011

Hadiah yang lebih berharga ( story )

Cerita berikut saya adops dari Blog tetangga (maaf saya lupa sumber aslinya). Mudah-mudahan dapat memberi inpirasi dan motivasi bagi kita.

       Para penumpang bus memandang penuh simpati ketika wanita muda berpenampilan menarik, mengenakan jilbab ungu dan bertongkat putih itu dengan hati-hati menaiki tangga. Dia membayar sopir bus lalu, dengan tangan meraba-raba kursi, dia berjalan menyusuri lorong sampai menemukan kursi yang tadi dikatakan kosong oleh si sopir. Kemudian ia duduk, meletakkan tasnya dipangkuannya dan menyandarkan tongkatnya pada tungkainya.

Setahun sudah lewat sejak Susan, tiga puluh empat, menjadi buta. Gara-gara salah diagnosa dia kehilangan penglihatannya dan terlempar kedunia yang gelap gulita, penuh amarah, frustasi, dan rasa kasihan pada diri sendiri.

Sebagai wanita yang sangat independen, Susan merasa terkutuk oleh nasib mengerikan yang membuatnya kehilangan kemampuan, merasa tak berdaya, dan menjadi beban bagi semua orang di sekelilingnya.Namun justru nasib buruk itulah yang membawanya pada hidayah untuk mengenakan jilbab seperti sekarang ini.

"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi padaku ?" dia bertanya-tanya, hatinya mengeras karena marah. Tetapi, betapa pun seringnya ia menangis atau menggerutu atau berdoa, dia mengerti kenyataan yang menyakitkan itu -- penglihatannya takkan pernah pulih lagi.
     Depresi mematahkan semangat Susan yang tadinya selalu optimis. Mengisi waktu seharian kini merupakan perjuangan berat yang menguras tenaga dan membuatnya frustasi. Dia menjadi sangat bergantung pada Mark, suaminya. Mark seorang perwira Angkatan Udara. Dia mencintai Susan dengan tulus.

Ketika istrinya baru kehilangan penglihatannya, dia melihat bagaimana Susan tenggelam dalam keputus asaan. Mark bertekat untuk membantunya menemukan kembali kekuatan dan rasa percaya diri yang dibutuhkan Susan untuk menjadi mandiri lagi.

     Latar belakang militer Mark membuatnya terlatih untuk menghadapi berbagai situasi darurat, tetapi dia tahu, ini adalah pertempuran yang paling sulit yang pernah dihadapinya.

Akhirnya, Susan merasa siap bekerja lagi. Tetapi, bagaimana dia akan bisa sampai ke kantornya? Dulu Susan biasa naik bus, tetapi sekarang terlalu takut untuk pergi ke kota sendirian. Mark menawarkan untuk mengantarkannya setiap hari, meskipun tempat kerja mereka terletak di pinggir kota yang berseberangan.

Mula-mula, kesepakatan itu membuat Susan nyaman dan Mark puas karena bisa melindungi istrinya yang buta, yang tidak yakin akan bisa melakukan hal-hal paling sederhana sekalipun.

Tetapi, Mark segera menyadari bahwa pengaturan itu keliru ,mengharuskan  mereka terburu-buru, dan terlalu mahal. Susan harus belajar naik bus lagi, Mark menyimpulkan dalam hati. Tetapi, baru berpikir untuk menyampaikan rencana itu kepada Susan telah membuatnya merasa tidak enak. Susan masih sangat rapuh, masih sangat marah.

Bagaimana reaksinya nanti ? Persis seperti dugaan Mark, Susan ngeri mendengar gagasan untuk naik bus lagi. "Aku buta !" tukasnya dengan pahit. "Bagaimana aku bisa tahu kemana aku pergi? Aku merasa kau akan meninggalkanku" Mark sedih mendengar kata-kata itu, tetapi ia tahu apa yang harus dilakukan. Dia berjanji bahwa setiap pagi dan sore, ia akan naik bus bersama Susan, selama masih diperlukan, sampai Susan hafal dan bisa pergi sendiri.

    Dan itulah yang terjadi. Selama dua minggu penuh Mark, menggunakan seragam militer lengkap, mengawal Susan ke dan dari tempat kerja, setiap hari. Dia mengajari Susan bagaimana menggantungkan diri pada indranya yang lain, terutama pendengarannya, untuk menemukan dimana ia berada dan bagaimana beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Dia menolong Susan berkenalan dan berkawan dengan sopir-sopir bus dan menyisakan satu kursi kosong untuknya.

Dia membuat Susan tertawa, bahkan pada hari-hari yang tidak terlalu menyenangkan ketika Susan tersandung waktu turun dari bus, atau menjatuhkan tasnya yang penuh berkas di lorong bus. Setiap pagi mereka berangkat bersama-sama, setelah itu Mark akan naik taksi ke kantornya.

Meskipun pengaturan itu lebih mahal dan melelahkan daripada yang pertama, Mark yakin bahwa hanya soal waktu sebelum Susan mampu naik bus tanpa dikawal. Mark percaya kepadanya, percaya kepada Susan yang dulu dikenalnya sebelum wanita itu kehilangan penglihatannya; wanita yang tidak pernah takut menghadapi tantangan apapun dan tidak akan pernah menyerah.

    Akhirnya, Susan memutuskan bahwa dia siap untuk melakukan perjalanan itu seorang diri.

Tibalah hari Senin. Sebelum berangkat, Susan memeluk Mark yang pernah menjadi kawannya satu bus dan sahabatnya yang terbaik. Matanya berkaca-kaca, penuh air mata syukur karena kesetiaan, kesabaran dan cinta Mark. Dia mengucapkan selamat berpisah. Untuk pertama kalinya mereka pergi ke arah yang berlawanan.

Senin, Selasa, Rabu, Kamis...Setiap hari dijalaninya dengan sempurna. Belum pernah Susan merasa sepuas itu. Dia berhasil ! Dia mampu berangkat kerja tanpa dikawal. Pada hari Jum'at pagi,seperti biasa Susan naik bus ke tempat kerja. Ketika dia membayar ongkos bus sebelum turun, sopir bus itu berkata : "Wah,aku iri padamu". Susan tidak yakin apakah sopir itu bicara kepadanya atau tidak. Lagipula, siapa yang bisa iri pada seorang wanita buta yang sepanjang tahun lalu berusaha menemukan keberanian untuk menjalani hidup?

Dengan penasaran, dia berkata kepada sopir itu, "Kenapa kau bilang kau iri kepadaku?" Sopir itu menjawab, "Kau pasti senang selalu dilindungi dan dijagai seperti itu". Susan tidak mengerti apa maksud sopir itu. Sekali lagi dia bertanya, "Apa maksudmu ?" Kau tahu, minggu kemarin, setiap pagi ada seorang pria tampan berseragam militer berdiri di sudut jalan dan mengawasimu waktu kau turun dari bus. Dia memastikan bahwa kau menyeberang dengan selamat dan dia mengawasimu terus sampai kau masuk ke kantormu. Setelah itu dia meniupkan ciuman, memberi hormat ala militer, lalu pergi. Kau wanita yang beruntung",kata sopir itu.

Air mata bahagia membasahi pipi Susan. Karena meskipun secara fisik tidak dapat melihat Mark, dia selalu bisa memastikan kehadirannya. Dia beruntung, sangat beruntung, karena Mark memberikannya hadiah yang jauh lebih berharga daripada penglihatan, hadiah yang tak perlu dilihatnya dengan matanya untuk menyakinkan diri -- hadiah cinta yang bisa menjadi penerang dimanapun ada kegelapan. (NN/SRT)

Minggu, 02 Januari 2011

HIDUP, Apakah Perlu Dua Kali.........?

Renungan Awal Tahun.............

       Diufuk sebelah timur sang surya mulai merambat perlahan, sinarnya yang kemerahan mulai menyinari hamparan semesta. Pagi 1 Januari 2011 begitu cerah, seakan ingin menyampaikan pesan pada kita “ Hari-harimu kemarin telah berlalu, maka lupakanlah. Tak ada gunanya menyesali sesuatu yang telah usai”. Adakah sesuatu yang telah terjadi “kemarin” namun masih membelenggumu, memaksamu untuk larut didalamnya ?
     Telah menjadi takdir Alloh bahwa penyesalan itu mesti selalu belakangan datangnya. Seandainya sesal itu bisa diletakkan di awal perbuatan, mungkin tak akan pernah ada pepatah  “sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tiada berguna”.Hikmah dibalik itu semua adalah agar kita senantiasa berhati-hati, berpikir sebelum bertindak.
      Dalam hidup ini, kadang kita terlambat menyadari bahwa "ternyata" kita telah mengambil atau menerima sebuah keputusan yang “salah”. Ingin rasanya kita mengulangi semuanya dari awal dengan pertimbangan dan langkah yang lebih matang dan lebih baik.  Apalagi keputusan itu menyangkut hidup dan masa depan kita. Makanya untuk suatu keputusan yg menyangkut diri kita, jangan pernah membiarkan orang lain yang menentukannya. Bila tidak, maka bersiaplah untuk menderita batin akibat keputusan itu jika kita tidak ikhlas menerimanya atau memang... keputusan itu tepat untuk kita.
      Dalam kehidupan dunia ini tak jarang kita menghadapi masalah besar dan keputusan yang kita ambil ternyata keliru dan terburu-buru. Inginnya membatalkan kesepakatan yang telah dibuat dan lari dari semuanya. Lalu, apakah kita bisa membayangkan seperti apa perasaan pihak yang menjadi korban dari pembatalan keputusan kita? sepertinya ...sangat sakit. Jadi sebelum mengambil keputusan apalagi yang menyangkut kehidupan kita, pikirkan matang-matang dengan melihatnya dari berbagai sudut pandang. Pertimbangkan resiko dan konsekwensi yang mesti kita tanggung.
Namun satu hal yang perlu kita ingat adalah tiada sesuatupun yang sempurna dan ideal di dunia ini. Kadang kita melihat keputusan yang mungkin buruk menurut pandangan, perasaan, dan logika manusia. Namun pada hakikatnya mungkin itulah yang terbaik untuk kita. Ingatlah, Allah paling mengetahui apa yang terbaik untuk hambaNya. Boleh jadi suatu keputusan dipandang buruk oleh manusia, namun ternyata mulia disisiNya.
كُتِبَ عَلَيۡڪُمُ ٱلۡقِتَالُ وَهُوَ كُرۡهٌ۬ لَّكُمۡ‌ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡـًٔ۬ا وَهُوَ خَيۡرٌ۬ لَّڪُمۡ‌ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّواْ شَيۡـًٔ۬ا وَهُوَ شَرٌّ۬ لَّكُمۡ‌ۗ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ (٢١٦)
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi [pula] kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Qs.Al Baqoroh : 216)

    Jika kita tidak bisa menentukan keputusan sama sekali,  bagi kita muslim, Allah Azza wa Jalla membantu kita dengan mensyariatkan sholat istikharah. 

    Saudaraku marilah kita belajar menerima, rela, ikhlas dan meridhoi apa yang telah kita putuskan ataupun menimpa diri kita walaupun ‘nampaknya’ tidak sesuai dengan harapan. Mungkin itulah yang terbaik menurut Sang Khalik. Atau mungkin itu adalah cobaan yang dibaliknya ada tersimpan sesuatu yang lebih indah, walau kita sangat sulit untuk mengambil hikmah dari semuanya dan memandangnya sebagai sesuatu yang indah.  Oleh karena itu sebelum mengambil keputusan, kerahkanlah segala daya dan upaya untuk menentukan mana yang terbaik. Jangan sampai kita menyesal seumur hidup dan “ingin rasanya mengulangi hidup ini sekali lagi” untuk merubah keputusan yang sebelumnya serta menjalani kehidupan dengan keputusan yang baru.Percayalah. andaipun engkau diberi kesempatan hidup untuk kedua kali,namun tak kan ada jaminan bahwa kehidupanmu yang kedua itu akan lebih baik dari hidupmu sekarang !!.

   Saudaraku, waktu begitu cepat berlalu, sudah saatnya kita memutar balik kehidupan yang telah kita lalui, bukan untuk menyesali keputusan-keputusan kita, tetapi untuk kita jadikan pelajaran berharga agar kita lebih bijaksana dalam bertindak.
Sahabatku, saudaraku Kematian tak pernah bertanya pada kita, apakah kita bersedia dan siap ia datang pada kita atau tidak, ia datang begitu tiba-tiba, ia pun datang dengan cara yang ia suka, bukan yang kita suka. Namun saudaraku sesungguhnya cara KEMATIAN datang adalah sesuai dengan “catatan-catatan” yang telah kita torehkan dalam kehidupan kita ini. Kehidupan yang tidak perlu DUA kali.

Bukit Sekatub Damai, Dibalik rimbunan hutan bakau…..(SRT

Sabtu, 01 Januari 2011

Seperti Menggenggam Bara Api

Renungan Akhir Tahun......        

        Hujan turun tak begitu deras, hawa dingin diluar ditambah pendingin udara dikamarku memaksa aku menarik kembali selimut ditubuhku. Angin kencang rupanya bertiup menemani sang hujan. Kucoba memejamkan mata ini, kubenahi letak bantal dikepalaku. Namun… mataku tak jua mau terpejam kembali. Ya Alloh Kau bangunkan aku ditengah malam sunyi begini pasti Engkau ingin mengingatkan aku agar bermunajat kepada-Mu. Tapi seperti malam-malam sebelumnya, rasa malas selalu membekapku walau untuk sejenak berdingin ria dengan air wudhlu. Dengan berat ku singkap selimut ditubuhku, aku berjalan keluar kamar menuju sofa diruang tamu. Sembari merebahkan punggungku disofa, mataku menerawang ke langit-langit ruang tamu yang warnanya mulai memudar. Beberapa saat kemudian ada perasaan gundah menyergap, langit-langit ruang tamu ini memudar warnanya karena dimakan waktu. Bagaimana dengan diriku ? tiba-tiba saja pertanyaan itu menyeruak. Ahh…bukankah malam ini adalah malam pergantian tahun. Waktu yang tepat untuk memutar kembali slide kehidupan dalam satu tahun ini, perjalanan satu tahun yang telah mengurangi jatah hidupku. Saat yang tepat untuk bermuhasabah dengan diriku sendiri. Adakah kebaikan "berarti" yang telah ku perbuat ?. satu persatu bayangan kedurhakaan yang kulakukan pada sang Kholiq berkelebatan di benakku.
Hatiku galau.
          Ragu dan kian bimbang melihat keadaanku saat ini. seakan tak menyadari bahwa diusiaku yang sudah 37 ini, sehelai demi sehelai rambut putih mulai menghiasi kepala. Namun masih begitu mudahnya hati ini lalai mengingat -Mu. Hati masih begitu rapuh menerima cobaan dan takdir-Mu. Tausiah-tausiah yang disampaikan ustadz selepas sholat maghrib, tetesan airmata dan kepasrahan  ketika bermunajat kepada-Mu seolah sia-sia disebabkan kedurhakaan dan  maksiat yang kembali terulang keesokan harinya. Rasa malas ketika hendak menjalankan ibadah, mudahnya hati ini berprasangka pada orang lain merupakan bukti bahwa di hati ini sedang bersarang sebuah penyakit “serius”.
           Shalat, tilawah Qur'an, pengajian dan juga puasa yang aku kerjakan seolah tidak memberi bekas sama sekali. Keadaan hati ini tetap begitu-begitu saja. Sebegitu sulitkah istiqamah ?. Aku mulai kehilangan kepercayaan diri. Sepertinya mustahil menjadi hamba-Mu yang sejati. Rasanya, semakin jauh saja diri ini dari surga yang Engkau janjikan. Bahkan mungkin panasnya jahanan-Mu kian terasa dekat.
Ya Alloh ..Yaa Robbi, meskipun demikian, aku juga tetap sadar untuk tidak boleh berputus asa dari rahmat -Mu. Bukankah Engkau sudah menyatakan bahwa tidak akan berputus asa seorang hamba dari rahmat-Mu kecuali orang-orang kafir.
Ya Robb, semoga aku Kau masukkan dalam golongan hamba-Mu yang pasrah, semoga kegalauan ini merupakan  Jeritan hati seorang mukmin yang sebenarnya rindu menjadi hamba -Mu yang bertakwa. Rindu kepada kedamaian dan ketentraman pengabdian. Juga rindu untuk berhenti menzhalimi diri sendiri dan dan ingin segera melesat meraih kehidupan mulia.
Mungkinkah ini zaman yang dijanjikan oleh Rasulullah SAW? Zaman dimana makhluk terlaknat DAJJAL datang kemuka bumi dengan menawarkan air penawar dahaga ditangan kanan dan membawa bara panas menyala ditangan kiri ? Ketika seseorang yang memegang agamanya dengan kukuh diibaratkan SEPERTI MENGGENGGAM BARA API. Bara api yang menyala, panas membakar tangan-tangan orang yang berusaha memegangnya. Kemaksiatan menjadi hal biasa. Agama menjadi sesuatu yang asing. Halaqoh-halaqoh ditinggalkan hadirinya. Orang shalih dianggap manusia aneh.
Zaman ketika orang beriman di waktu pagi kemudian kufur di sore harinya. Akan tetapi, bagi orang yang mampu memegang teguh agama di zaman ini sampai akhir hayatnya ganjarannya setara dengan pahala lima puluh orang. Para sahabat bertanya kepada Rasulullah: "Lima puluh orang dari kalangan kami (para sahabat) atau dari kalangan mereka sendiri wahai Rasul?" Rasul menjawab: "dari kalangan kalian".
       Coba bayangkan!
Setara dengan lima puluh orang sahabat yang hidup di zaman Rasulullah SAW?
Lantas, bagaimana cara menjinakkan bara api yang membakar itu? Sehingga dapat mencapai derajat tinggi yang dijanjikan oleh Rasulullah. Rosululloh pernah bersabda kepada para sahabatnya . Pada akhir zaman nanti, sangat sedikit orang yang memegang teguh agama. Bukan karena agama itu tidak baik, tapi memang manusia sudah tidak memahami lagi kepentingan hadirnya agama ditengah-tengah kehidupan. Karena agama mengajarkan kesucian, keramahan, dan kesetiaan. Sedangkan manusia pada akhir zaman tidak mementingkan hal-hal yang demikian. Manusia mementingkan segala yang bersifat cepat, enak, santai, dan menyenangkan. Abdullah bin Abbas sendiri pun enggan tinggal di dekat Masjidil Haram, karena sudah sangat hebatnya maksiat. (ketika itu)
          Abdullah al-Antokiyyah berpesan bahwa, ada lima cara agar hati  tetap istiqomah: itulah yang disebut obat hati (tombo ati): tahajjud, baca quran, bersahabat dengan orang soleh, puasa, dan zikir di keheningan. Sedangkan Hatim al-Ashom mengajarkan bahwa dia bisa istiqamah karena meyakini rezekinya tidak akan pindah kepada orang lain dan rezeki orang lain tidak akan pindah kepadanya.
Tuhan melihatnya sehingga dia malu melawan hukum Tuhan, mati pasti mendatanginya oleh karena itu dia mempersiapkan diri menyongsong kematian. Kalau kedua cara ini bisa engkau terapkan insya Allah godaan dunia yang semakin sangat mengerikan ini dapat kamu hindari dan hindarkan.
Demikian keadaan akhir zaman.
Namun  kenikmatan dunia, senikmat apapun itu tetap tiada harganya dibandingkan kenikmatan akhirat. Tapi jangan lari dari kehidupan dunia. Tetaplah berbuat suatu kebaikan untuk seluruh manusia di tengah kesulitan ini. Dari balik tumpukan sampah tidak mustahil tumbuh bunga.
Ingat!!! di dalam lumpur sekalipun mutiara tetaplah mutiara. Siapa saja yang memegang teguh agama di akhir zaman ini kata Rasul, mendapat pahala seakan-akan 100 orang mati syahid.
Hidup adalah pilihan. setiap kita bertanggung jawab atas pilihan yang kita lakukan.
Seorang ulama mengatakan Bara api lama kelamaan akan padam ketika kita menggenggamnya dengan kuat dan tidak segera melepasnya. Perih memang. Tapi keperihan itu hanya sementara. Saat bara api itu padam semuanya akan mudah. Dan ganjaran yang setara dengan lima puluh orang sahabat tidak mustahil kita raih.
        Masalah kita selama ini adalah kebohongan yang kita pelihara dan telah mengakar di sanubari kita. Kebohongan terhadap diri sendirilah yang menyebabkan kita sering gagal. Kejujuranlah kunci utama yang membuat kita melesat meraih kemuliaan di sisi Allah. Jujur bahwa kita hanya hamba yang lemah, hina, tidak mampu berbuat banyak. Hanya petunjuk, bimbingan, anugerah serta kehendak Allah sajalah yang menjadikan kita memperoleh segalanya.
       Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas'ud, Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya kejujuran itu menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan menuntun kepada surga. Dan sesungguhnya seseorang benar-benar berkata jujur sehingga dia ditulis di sisi Allah sebagai seorang yang jujur.
Sedangkan kebohongan menuntun kepada keburukan dan keburukan menuntun kepada neraka. Dan sesungguhnya seseorang benar-benar berkata dusta sehingga dia ditulis di sisi Allah sebagai seorang pembohong."

       Perlahan aku bangkit dari kursi sofa, seberkas iman didadaku  menuntun kedua kaki ini menuju tempat wudhlu. Air memercik kemukaku, tak sedingin yang kubayangkan !. Ya Alloh, semoga Kau sinari hidupku, istri dan anak-anakku dengan sholat ini. meskipun terkadang hanya 2 roka'at yang mampu aku persembahkan kepada-Mu. Lirih aku berguman LAA ILLAHA ILLALLOH.


Bukit Sekatub Damai " dalam kritisnya imanku ".......(SRT)