Biarkan air mata ini mengalir bersama dengan dosa-dosa yang teringat. Lelapkan semua kesemuan dunia yang hanya sementara. Bukalah sedikit matamu untuk melihat dunia yang abadi, telungkupkanlah tanganmu untuk memberi... Berikan senyummu agar orang lain merasakan kabahagiaanmu... mari lukis perasan hati mencintaiNya dengan keimanan dan ketakwaan. Bismillah...

Jumat, 09 Mei 2014

Qur'an "BUKAN" Barang Istimewa...


Ini hanyalah tentang Qur’an.
   Tidak Istimewa Khan, Siapa yang bilang Qur’an Istimewa ? 
Siapa yang bisa menjelaskan kalau Qur'an Istimewa ?

Sesuatu yang Istimewa bagi kita tentulah "Ia" yang akan sering kita rindukan, yang sering kita pandang, yang sering kita pegang, yang sering kita buka, yang sering kita baca, yang sering..dan sering lainya. Intinya kita selalu ingin berinteraksi dengannya, selalu kita nikmati baik melalui nikmat pendengaran, nikmat pandangan dan sebagainya.

  Qur’an itu HANYA buku, sama dengan buku-buku lainnya…setuju ??.
  Apa Istimewanya Qur’an dibanding buku-buku lain di Rak lemari kita?
Dia sama berjejer rapi seperti buku-buku lainnya.
Dia masih terlihat mulus sama dengan buku-buku lainya meski sudah sekian tahun disitu.

Lalu..Dimana Istimewanya Qur’an yang sebagai Kitab Suci-nya Umat Islam ??
Ada yang tahu bagaimana cara meng-istimewakan dan  menghormati Qur’an sebagai kitab Suci..
Bagaimana kalau kita sama-sama berpikir untuk mencoba mencari cara mengistimewakannya ..
Hemm..…kira –kira saat ini yang Istimewa bagi kita apa ya..? 
Istri ? ahh.....bohong..!!
Tetangga..? tambah bohong..!! Jabatan...?? Bukan juga..
HP ??....kayaknya barang ini deh yang paling istimewa dalam hidup kita sekarang ini…Ada yang nggak setuju...? Semua pasti setuju...

    
Pernahkah kamu berpikir andai kita perlakukan Al-Qur'an seperti halnya HP kita saat ini..?
 
Lihat...
Bagaimana kalau kita selalu membawanya kemanapun kita pergi??? dalam tas  & saku?
Bagaimana jika kita selalu melihatnya, membaca pesan-pesannya  beberapa kali dalam sehari?
Betapa kita gugup, gelisah, terburu-buru balik kerumah saat lupa membawanya?
Satu hari tanpa HP..? Duhh..kiamaatttBagaimana jika kita memperlakukn Qur'an seolah kita tak bisa hidup tanpanya..?
( Dan sesungguhnya memang benar, kita tak bisa hidup tanpanya...!)


Bagaimana jika kita berikan itu kepada anak-anak kita sebagai hadiah ?
Bagaimana jika kita selalu sempatkan untuk membacanya disaat bepergian ?
Bagaimana jika kita buat dia sebagai prioritas?
        Seperti contoh status berikut :
" Quran is my best friend- Qur'an adalah teman terbaikku..!!
."
Mungkin hanya 7% yg akan menyebarkan pesan ini...
Jadilah salah satu dari mereka &sebarkan  kepada saudara2  muslim lainnya.
Janganlah jadi bagian dari 93% yg enggan myebarkn pesan ini...
Coba pikirkan tentang Hari Pembalasan, sekalipun sekali saja
Kita sadar betul kalau hampir setiap hari HP selalu membuka dan bertukar pesan, SMS-WA-BBM-email dsb. dg teman-teman.
Kita share/forward  guyonan & gosip....

Tapi...,

Berapa kali kita buka Quran dan membaca firman-NYA..?
Jika kamu bersama teman-temanmu  atau keluargamu, bagikan tulisan ini kepada mereka...!!
Terbukti dalam Penelitian :
 
- Mendengarkan Qur'an  mengurangi menyebarnya sel kanker ditubuh manusia bahkan menghancurkannya.
  -
Memanjangkan sujud semakin menguatkan ingatan dan mencegah stroke.

 Setan  berkata: "Aku heran bagaimana bisa manusia mengatakan mereka cinta Allah tapi mengabaikan perintahNya,dan mengklaim benci padaku, tapi nyatanya mereka patuh pada rayuanku! "
 
Jika tidak mau termasuk yang disindir syeitan diatas, Engkau Hanya butuh waktu sebentar untuk menyebarkan pesan ini kepada orang-orang tercinta sebagai Pengingat.
Selanjutnya …Baca Qur’an...baca Qur’an...Baca Qur’an…..

Kalau Pesan Ini tak membekas di hatimu, kau pasti mengira karena Hidayah belum mendatangimu…
Kalau hatimu belum tergerak untuk memulainya, pasti karena kau merasa hidupmu masih akan lama…
Kalau kau masih merasa sibuk hingga seakan tidak punya waktu, pasti karena kau tidak tahu bahwa memang….MANUSIA ITU PENUH KESIBUKAN HINGGA TAK SEMPAT UNTUK MELAKUKAN KEBAJIKAN, SEDANGKAN SYEITAN ITU PENGANGGURAN SEHINGGA PUNYA BANYAK WAKTU UNTUK MENJERUMUSKAN MANUSIA….
KETAHUILAH :
HIDAYAH itu Hak prerogative Alloh dan hanya diberikan kepada yang diKehendakinya,
HIDAYAH itu datang melalui berbagai cara, lewat Ilham,lewat bacaan,lewat SMS-WA-BBM-LINE dll...jadi kalau yang tak mendapat pesan ini berarti tak dikehendaki-Nya.
HIDAYAH itu datang melalui siapa saja, Cobaan, bencana, sahabat, Media dll

“HIDAYAH itu sudah diberikan pada siapa saja, namun kalau kau masih enggan "berbuat" itu karena Kesombonganmu terlalu besar sehingga menutupi Ma’unah dalam hati mu…”

Admin ODOJ 937- Ababil & Al Jihad

Rabu, 02 April 2014

Odoj Vs Bid'ah

One Day One Juz : Bid’ah?

Oleh : Armansyah

Jujur sebenarnya saya enggan untuk menulis artikel ini karena buat saya pribadi rasanya agak berlebihan bila hal seperti ini saja menjadi sesuatu yang kontroversi. Tapi karena kemudian banyak juga pertanyaan yang masuk kepada saya berkaitan hukum mengikuti aktivitas “One Day One Juz” atau yang biasa disingkat ODOJ akibat adanya pandangan miring serta cap bid’ah oleh sejumlah kelompok yang ekstrim dalam agama ini, akhirnya dengan mengucap Bismillah, saya tulis juga dengan harapan semoga bermanfaat untuk semua.
Ikhwan wa Ukhtifillah  rahmatullah ‘alaikum….
Istilah ibadah yang sering kita sebut dalam bahasa Indonesia sebenarnya berasal dari bahasa Arab, عُبُودَة، عُبُودِيَّة، عَبْدِيَّة (‘Abdiyah, ‘Ubudiyah, ‘Ubudah) yang memiliki arti kepatuhan atau ketundukan. Istilah ini juga memiliki pengertian yang sama dalam bahasa Ibrani “Abodah” yang artinya mengabdi.
Tunduk ya artinya merendahkan diri serta mengikuti kehendak sesuatu atau seseorang yang kedudukannya ada diatasnya. Dalam terminologi syara’ atau fiqh, maka yang disebut sebagai ibadah mencakup aktivitas lisan, hati dan perbuatan fisik anggota tubuh yang dilakukan dalam rangka mencari ridho Allah yang didalamnya terdapat rasa khouf (takut), roja’ (mengharap), mahabbah (cinta), tawakkal (ketergantungan) dan roghbah (senang). Intinya, semua dilakukan sebagai bentuk abdi atau penghambaan makhluk kepada Allah selaku al-Kholiq.
Inilah memang yang menjadi hakekat dasar penciptaan manusia.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ 
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rizki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku. Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi rizki Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” [Adz-Dzaariyaat: 56-58]
Istilah ibadah menjadi istilah yang sangat umum sifatnya, sehingga kemudian para ulama membagi aktivitas ibadah menjadi dua kategori, yaitu ibadah mahdhoh dan ada pula ibadah ghoiru mahdhoh
Maksud dari ibadah mahdhoh adalah aktivitas ibadah yang cara pelaksanaannya maupun waktu-waktunya secara khusus telah ditentukan atau diatur oleh Allah melalui lisan Nabi-Nya. Misalnya Sholat, Puasa, Haji, Dzakat, Berwudhu dan seterusnya.
Sedangkan ibadah ghoiru mahdhoh adalah aktivitas ibadah yang cara dan waktu pelaksanaannya tidak baku, saklek atau pasti. , namun tetap ada syari’at yang menjadi landasan perbuatannya. Hal ini bisa dicontohkan seperti melakukan sedekah secara umum diluar dzakat, silaturahim, berdzikir, berdakwah, mengajar, gotong-royong dan ibadah mu’amalah lain yang inti tujuannya tetap untuk ber-taqorrub ilallah dan mencariridhotillah.
Kesalahan yang sering terjadi adalah kita acapkali merancukan antara ibadah mahdhoh dan ibadah ghoiru mahdhoh sehingga penjatuhan hukumnyapun menjadi keliru. Sebagai konsekwensi kekeliruan pemberian hukum ini muncullah kontroversi dan kekacauan ditengah umat, khususnya kalangan akar rumput yang masih belajar. 
Timbullah fatwa-fatwa yang tidak populer dengan menyebutkan aktivitas tertentu sebagai perbuatan bid’ah. Sedikit-sedikit bid’ah dan ujung-ujungnya di cap sebagai kafir sebab dimunculkan anggapan pelakunya melakukan kekufuran atas syariat.

Ya disini saya tidak ingin menyebut nama kelompok atau jemaah tertentu yang sering secara ekstrim dan serampangan melakukan hal-hal seperti yang sudah saya sebutkan tadi. Saya berusaha menghindari konflik yang tidak perlu namun tetap bersifat keras dan tegas.
Jadi bila ada kelompok, komunitas, jemaah ataupun sekte yang merasa tersinggung dengan tulisan saya serta pemahaman saya dalam beragama ini, mohon maaf lahir dan batin sajalah. Tak perlu ribut dan saling memaksakan paham. Jika anda setuju ya silahkan ikuti tapi bila tidak suka, ya lakukanlah apa yang menurut anda sebagai suatu kebenaran. Nafsi-nafsi intinya.
Balik lagi pada ibadah ghoiru mahdhoh, tentu ada kriteria serta batasannya juga yang wajib diketahui sehingga tidak terjebak pada perbuatan bid’ah yang sesungguhnya. Diantaranya adalah:
Tidak adanya dalil baik dari Alquran dan pun Nabi yang melarang melakukan ibadah ghoiru mahdhoh tadi. Artinya, selama Allah dan Rasul-Nya tidak melarang atau mengharamkan aktivitas itu maka ibadah bentuk ini boleh dilaksanakan.
Model, cara, pola ataupun bentuk pelaksanaan ibadah tersebut tidak selalu harus persis sama seperti apa yang dilakukan oleh Nabi sebagaimana diketahui melalui banyak riwayat hadist dan siroh nabawiyah. Misalnya, cara berinfaq, bersedekah, penggunaan media dakwah, proses serta metode belajar-mengajar, berdzikir dan lain sebagainya.
Ibadah yang dilakukanitu haruslah aktivitas yang sifatnya logis, rasional atau dapat dipahai secara akal sehat. Sehingga baik atau buruk, untung atau pun rugi, benar atau salah, bermanfaat atau mengandung mudharat, semuanya dapat dilihat dan ditimbang secara langsung tanpa harus ada perdebatan dikalangan orang-orang yang berakal. 
Nah, rasanya sebagai pengantar cukuplah sampai disini bahasan tentang ibadah mahdhoh dan ghoiru mahdhoh. Kita masuk dalam inti permasalahan yang hendak dibahas yaitu hukum pelaksanaan pengajian al-Qur’an dengan metode: One Day One Juz.
ODOJ
Apakah ODOJ ini masuk dalam klasifikasi ibadah mahdhoh ataukah ghoiru mahdhoh? 
Adakah cara-cara membaca al-Qur’an diatur secara khusus dalam nash syar’iat? maka jawabnya ada, bahkan dalilnya jelas, tegas dan kuat dari kitabullah. Maka dari itu hukum cara mengaji dengan pengertian disini membaca huruf-huruf al-Qur’an masuk kedalam ibadah mahdhoh.
Allah berfirman:
“Dan bacalah Al Qur’an itu dengan tartil.” (QS Al Muzzammil 73:4)
Ibnu Katsir menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan tartil adalah membaca dengan perlahan-lahan dan hati-hati karena hal itu akan membantu pemahaman serta perenungan terhadap al-Qur’an. Membaca tartil juga pada tingkatan lebih jauh dapat dimaknai dengan memahami makhorijul huruf (tempat keluar-masuk huruf), shifatul huruf (cara pengucapan huruf), ahkamul huruf (hubungan antar huruf), ahkamul maddi wal qasr (panjang dan pendek ucapan) hingga ahkamul waqof wal ibtida’ (memulai dan menghentikan bacaan) yang semua itu tercakup dalam ilmu tajwid.
Dalam ayat lain disebutkan juga:
“Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al Qur’an.” (QS Thaha 20:114)
Ada juga beberapa riwayat bercerita:
Sunan Abu Daud 1252: Telah menceritakan kepada Kami Musaddad telah menceritakan kepada Kami Yahya dari Sufyan, telah menceritakan kepadaku ‘Ashim bin Bahdalah dari Zirr dari Abdullah bin ‘Amr, ia berkata; Rasulullah shallAllahu wa’alaihi wa sallam bersabda: “Dikatakan kepada orang yang membaca Al Qur’an: “Bacalah, dan naiklah, serta bacalah dengan tartil (jangan terburu-buru), sebagaimana engkau membaca dengan tartil di dunia, sesungguhnya tempatmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca.”
Sunan Abu Daud 1258: Telah menceritakan kepada Kami Abdul A’la bin Hammad, telah menceritakan Abdul Jabbar bin Al Ward, ia berkata; saya mendengar Ibnu Abu Mulaikah berkata; Ubaidullah bin Abu Yazid berkata; Abu Lubabah lewat didepan Kami, lalu Kami mengikutinya hingga dia masuk ke rumahnya dan Kamipun masuk menemuinya, ternyata ia adalah seorang laki-laki perabotan rumahnya sedikit dan kondisinya memburuk, kemudian aku mendengar dia berkata; aku mendengar Rasulullah shallAllahu wa’alaihi wa sallam bersabda: “Bukan dari golongan Kami orang yang tidak memperindah bacaan Al Qur’an.” Abdul Jabbar berkata; aku bertanya kepada Ibnu Abu Malikah; wahai Abu Muhammad, bagaimana pendapatmu apabila ia tidak bagus suaranya? Ia menjawab; ia perindah suaranya semampunya. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sulaiman Al Anbari, ia berkata; Waki’ dan Ibnu ‘Uyainah berkata; yaitu ia menyibukkan dengan Al Qur’an.
Sunan Nasa’i 1640: Telah mengabarkan kepada kami Qutaibah dari Malik dari Ibnu Syihab dari As Saib bin Yazid dari Al Muththalib bin Abu Wada’ah dari Hafshah dia berkata; “Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat sunnah sambil duduk, hingga menjelang setahun sebelum beliau wafat, (saat itu) beliau sering shalat sambil duduk, membaca surah Al Qur’an dengan tartil, sampai-sampai beliau memperlama dalam membacanya.” 
Jadi ada dua hal yang diatur oleh Allah melalui kitab-Nya mengenai membaca al-Qur’an yaitu harus tartil dan tidak boleh terburu-buru. Hal ini bisa kita pahami karena al-Qur’an berfungsi sebagai al-Huda, hudan lil muttaqin, petunjuk bagi orang yang bertaqwa pada Allah. Jika membacanya serampangan asal jadi saja, bagaimana mungkin al-Qur’an dapat menjadi petunjuk dan pedoman?
Yang ada kita justru menjadikan bacaan al-Qur’an sebagai mantra alakadzam. :-)
Oke insyaAllah dapat dipahami ya sejauh ini….
Sekarang, bagaimana dengan metode tilawah One Day One Juz? dimana setiap orang dari anggotanya atau member dipaksakan untuk mengkhatamkan setiap harinya satu, one, (1) juz ? setelah khotam kemudian setiap orang melapor dengan aplikasi WhatsApp sehingga pada hari itu ke-30 anggota masing-masing khotam 1 juz al-Qur’an dan ditotal secara keseluruhan khotam 30 juz setiap hari. Apakah ini tidak menyalahi contoh Nabi? Bukankah ini Bid’ah?
Nah jawabnya balik dulu nih… diluar tata cara membaca al-Qur’an yang sudah kita bahas tadi, adakah sekarang ini metode tilawahan komunitas One Day One Juz alias ODOJ itu masuk dalam kategori ibadah mahdhoh ataukah ghoiru mahdhoh?
Setahu saya, Rasul tidak pernah memberi “aturan main” secara detil mengenai metode teknis pengkhotaman kitabullah. Jadi dengan kata lain, sifatnya fleksibel. Artinya ini masuk dalam wilayah ibadah ghoiru mahdhoh.
Bid’ahkah?
Sst, nanti dulu main bid’ah ini… yuk baca dulu riwayat berikut:
Sunan Tirmidzi 2870: Dari Abu Burdah dari Abdullah bin ‘Amru ia berkata; Aku berkata; “Wahai Rasulullah, seberapa lama aku harus menghatamkan al-Qur’an?” Beliau menjawab: “Khatamkan setiap bulan.” Aku berkata; “Aku bisa lebih mampu dan lebih baik dari itu.” Beliau bersabda: “Khatamkan dalam duapuluh hari.” Aku berkata; “Aku bisa lebih baik dari itu.” Beliau bersabda: “Khatamkan dalam limabelas hari.” Aku berkata; “Aku bisa lebih baik dari itu.” Beliau bersabda: “Khatamkan dalam sepuluh hari.” Aku berkata; “Aku dapat lebih baik dari itu.” Beliau bersabda: “Khatamkan dalam lima hari.” Abdullah berkata; “Setelah itu beliau tidak memberiku keringanan.”
Abu Isa berkata; Hadits ini hasan shahih, dinilai gharib dari hadits Abu Burdah dari Abdullah bin ‘Amru. Hadits ini juga diriwayatkan melalui sanad lain dari Abdullah bin ‘Amru.
Dan diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amru dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidaklah dapat memahaminya orang yang membaca (mengkhatamkan) al-Qur’an kurang dari tiga hari.” Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amru bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda padanya: “Bacalah (khatamkan) al-Qur’an dalam empatpuluh hari.” Ishaq bin Ibrahim berkata; “Berdasarkan hadits ini, maka kami tidak suka bila empatpuluh hari berlalu dari seseorang, sementara dirinya belum pernah mengkhatamkan al-Qur’an. Sebagaian ulama menyatakan bahwa al-Qur’an tidak dihatamkan kurang dari tiga hari, berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sementara sebagaian ulama yang lain memberi keringanan dalam hal ini. Diriwayatkan dari Utsman bin Affan bahwa ia menghatamkan al-Qur’an dalam satu rakaat witir.” Diriwayatkan dari Sa’ii bin Jubair, bahwa ia mengkhatamkan al-Qur’an dalam satu rakaat di (samping) ka’bah. Dan para ulama lebih menyukai membaca secara tartil.
Dari riwayat diatas jelas kita tidak dapat menyalahkan metode ODOJ yang mengkhatamkan al-Qur’an satu juz setiap membernya dalam satu hari. Terlalu lemah dan pagi untuk membatilkannya sementara ada nash agama yang mencondonginya. Saya percaya bahwa sekecil apa pun kebaikan yang kita lakukan, pasti Allah memberikan balasan yang berlipat ganda, lihat dalam Q.S. an-Nisa [4: 20]. Saya juga percaya bila aktivitas ODOJ, selama memperhatikan aturan main pembacaan al-Qur’an, bukanlah merupakan ibadah yang sia-sia atau bid’ah.
Pelaksanaan ODOJ justru dapat disebut sebagai penemuan baru dalam aktivitas pengkhotaman kitabullah dikalangan muslim. Selain itu, konsekwensi positip yang juga tidak dapat ditolak adalah unsur silaturahim antar ikhwan dan ukhtifillah sekaligus cara mendekatkan umat pada kitabullah.
Problem umat Islam sekarang ini sangatlah kompleks dan jangan hal itu dinafikan dengan membid’ahkan segala sesuatu yang tak sepaham dengan pemikiran dan paradigma kita. Generasi muda Islam hari ini, terutama mereka yang tinggal di perkotaan, sudah cukup jauh dari al-Qur’an. Mereka lebih dekat pada musik dan sinetron serta film-film barat yang penuh dengan action dan seksualitas.
ODOJ menjadi alternatif cara mendekatkan kembali generasi muda Islam pada al-Qur’an, dari dekat mudah-mudahan timbul senang dan cinta. Dari sini mudah-mudahan lagi bi-idznillah, mereka akan tergiring untuk memahami lalu mengamalkan isinya.
Akhirnya, hukum mengikuti One Day One Juz adalah tidak terlarang apalagi menjadi Bid’ah, kecuali anda melakukannya dalam toilet atau sambil berzinah.
Musnad Ahmad 22201: Telah menceritakan kepada kami Wahab bin Jarir telah bercerita kepada kami Hisyam bin Hassan dari Muhammad dari Abu ‘Ubaidah bin Hudzaifah dari Hudzaifah bin Al Yaman berkata; Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Barangsiapa memberi contoh kebaikan dan diikuti orang, ia mendapatkan pahalanya dan pahala-pahala orang yang mengikutinya tanpa dikurangi dari pahala mereka sedikit pun, sebaliknya barangsiapa memberi contoh keburukan lalu diikuti orang, maka ia mendapatkan dosanya dan dosa-dosa orang yang mengikutinya tanpa dikurangi dosa mereka sedikitpun.”
Tapi pak, kebanyakan para Odojers malah mengajinya sendiri-sendiri ditempat mereka dan tidak ada orang yang menjadi supervisor atau mengawasi bacaannya sehingga kecenderungan salah baca secara tajwid tetap terbuka. 
Oke, saya paham dan dapat menerima argumen ini. Memang semestinya kita membaca al-Qur’an dengan tartil tadi khan? Tapi untuk tahap awal, mari azamkan dulu metode ODOJ ini sebagai bentuk pendekatan awal pada tahapan selanjutnya dalam membaca al-Qur’an. Biasakan dulu lidah kita basah oleh ayat-ayat-Nya. Apalagi kita juga adalah bangsa ‘Ajam, orang yang asing dalam berbicara bahasa Arab. Setelah biasa membaca huruf-huruf hijaiyyahnya baru kita baguskan bacaan tersebut.
Lalu bagaimana dengan kemungkinan ibadah ini menjadi riyak pak?
Nah, jawabnya… biar puas baca tulisan saya khusus tentang riyak saja ya.
Bismillah.
Saya yakin kecenderungan saya ini, banyak yang tidak sependapat, tetapi Insya Allah alasan yang saya kemukakan termasuk hal yang logis dan memiliki sandaran dalil yang kokoh.
Setuju dan tidak setuju adalah hal yang wajar terjadi, saya tidak harus selalu sependapat dengan anda atau siapapun dalam memahami agama Allah ini. 
Least but not Last, harus dimaklumi pula bila ODOJ pada hakekatnya hanyalah salah satu metode untuk mendekatkan umat pada al-Qur’an. Membiasakan umat untuk membaca al-Qur’an. Membiasakan lidah-lidah kaum ‘ajam ini untuk melantunkan huruf-huruf hijaiyyah yang tak biasa diucap oleh lisan-lisan mereka. 
Pada tataran lebih jauh, ODOJ cuma opsional. Para santri di pesantren misalnya, mereka sudah masuk dalam tahapan mengkaji bukan lagi mengaji. Bacaan mereka sudah bukan lagi satu juz sehari tapi sudah berjuz-juz dalam tiap waktunya, bahkan boleh jadi mereka sudah masuk dalam metode penghafidzan al-Qur’an. Jadi bila kita merasa tingkat interaksi kita terhadap kitabullah sudah pada tatanan mengkaji, ya ODOJ bisa saja sangat opsional sifatnya. 
Faya ayyuhalmuslimuunal kirom.
Usikum Wa Iyyaya Bi Taqwallah wa akhussukum ‘ala tho’atihi.
Faqod Fazal Muttaqun.
Palembang, 24 Pebruari 2014

Mgs. Armansyah Sutan Sampono Azmatkhan
#Anggota ODOJ 505

Kamis, 27 Maret 2014

ODOJ-er : Testimony

Hidayah adalah milik Alloh, hanya akan diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Bahkan Alloh pernah menegur manusia pilihan, manusia sempurna, junjungan kita Nabi Muhammad SAW ketika beliau memintakan hidayah untuk paman beliau. Alloh memberikan hidayah dari arah mana saja, dengan cara apa saja, dan melalui siapa saja.

Ber-OneDAy OneJuz tidak bisa dipaksakan, ..........



Testimony (dari berbagai sumber Media) :

1.  Teuku Wisnu (Artis): “Awalnya saya tahu dari twitter lalu diajak oleh Okki (Setiana Dewi) dengan rekan artis lainnya untuk ikut bergabung.Ada  banyak manfaat yang kita rasakan dari grup ODOJ.
Selain bisa memperkuat komitmen membaca satu juz per hari, Anggota juga bisa sharing, berbagi tausiyah. Baiknya jadi lebih bisa men-tafakuri isi dari Al-Quran itu sendiri, selama ini saya baca ya hanya baca saja tanpa mendalami maknanya, Bahkan dengan satu grup ODOJ ada 30 anggota. Masing-masing membaca satu juz berbeda setiap hari sehingga setiap orang bisa khatam dalam sebulan dan masing-masing grup bisa khatam setiap hari. Jika ada anggota yang tidak dapat menyelesaikan tilawah satu juz pada hari tersebut, maka ada pilihan lelang, tilawahnya diselesaikan oleh anggota lainnya”.

2.  Mudjib Utomo (Pensiunan): "Diajak gabung program Odoj, saya semula merasa berat. Baca Qur'an biasanya cuma satu 'ain sehari. Tapi ini 1 Juz ? Woouuw....!!. Awal-awalnya saya betul-betul berjuang keras membuang rasa malas, nyicil sebelum subuh, lanjut ba'da subuh, terus ba'da dhuhur dan ba'da maghrib, seuanya berat banget.Tapi sekarang telah kuperoleh nikmatnya, Terimakasih Admin, yang berkenan mengajak saya bergabung dengan komunitas odoj ‘ababil’.Beruntung, Alhamdulillah ada Odoj dan saya jadi anggota.semuanya terasa menginspirasi. Kalau aku tak menjadi anggota komunitas Odoj, bacaan qur’anku ya pasti begitu-begitu saja sampai kapanpun. Sehari tak sampai satu halaman, kasiaann banget.Kini makin terasa nikmatnya, Qur’an makin dibaca-makin dipahami artinya.meski 1 juz  (sekitar 20 halaman…itu banyak lho), terasa kian mennentramkan hati.Saat luang waktu kubaca artinya perkata. Qur'an ternyata isinya Harapan, ancaman, kenikmatan, peringatan dan optimisme. Qur’an juga seringkali mengulang-ulang peringatan. Barangkali karena kita tak suka melawan lupa, blo’on terus..ha..ha.   Di Komunitas Odoj tidak hanya itu. Kita juga sesekali guyon, saling tukar joke,lewat WA-BB.  meski selama menjadi anggota odoj tak pernah ketemu darat. Anggota dari berbagai kota lagi, Bandung,bontang, Jakarta, jogja,malah ada yang dari medan.. semoga semua yang saya ungkapkan ini tidak menjadikan Riya'. Sebaliknya meng-inspirasi teman-teman yang masih ragu ikut ODOJ. Sehari 1 juz itu sebenarnya kecil, tak memakan waktu sampai 1 jam. Padahal Alloh emberikan waktu 24 jam sehari untuk kita. Alloh SWt secara sarkastis bertanya pada kita dalan Qs.Ar-Rahman,”Nikmat mana lagikah yang akan kau dustakan ?.Semoga kita tergerak untuk mengkaji Kitab Suci yang keasliannya dijamin oleh alloh SWT (Yogyakarta).

3.  Dhini Aminarti (Artis) :”Sebelum Bergabung dengan OneDay-OneJuz sulit untuk bisa merutinkan membaca al-Quran. Namun setelah mengikuti komunitas ini, jika satu hari saja tidak membaca al-Quran, dalam hati terasa ada yang kurang”. 

4.  Dimas Seto (Artis) :”Khatam Qur’an 1 Juz perhari adalah mustahil bagi saya. Sebelum bergabung dengan Gerakan Odoj hampir tidak pernah bisa mengkhatamkan al-Quran 1 Juz per hari, setelah ikut ODOJ khatam al-Quran menjadi lebih mudah”.

5.  Dude Herlino (Artis):”Dengan mengikuti ODOJ Kita bisa saling mengingatkan, memotivasi untuk menyelesaikan satu juz per hari”. 

6.  Baim Wong (Artis):” Setelah bergabung dengan Odoj, sekarang jadi  terbiasa membaca al-Quran satu juz selepas Shalat Shubuh , apa lagi kalau lagi padat jadwal, sauya harus mengejar agar tetap dapat khatam per hari, kalau belum khatam rasanya punya hutang sama Alloh. bahkan Keluarga besar saya juga saya ajak megikuti ODOJ”.

7.  Abu Majid (Admin ODOJ-937 “Ababil”):”Magnet Odoj benar-benar sangat kuat membangkitkan Ghiroh bertilawah ditambah para anggota Odoj-937 yang luarbiasa. Bagaimana tidak, Padahal anggota Odoj-937 mayoritas para karyawan yang super sibuk dari pekerja pabrik,karyawan kantoran , Manager,dokter bahkan General Manager. Tak mau ketinggalan para pensiunan juga bergabung ber ONEDAY-ONEJUZ. Semua memiliki motivasi yang tinggi, bahkan yang ada unik dalam Komunitas Odoj, tanpa disadari mereka saling mengingatkan dengan cara mengirim laporan kepada admin sehingga para anggota yang belum selesai tilawah semakin bersemangat untuk menyelesaikan Juz-nya. Begitulah hari-hari para odojer yang luarbiasa.”

ONEDAY-ONEJUZ (Odoj) - 937 "Ababil"..

Bismillahirahmannirohim....

Tak mau ketinggalan mengejar tiket "Akhirat", dengan Tekat Tahun baru "semua serba baru". Akhirnya Tertanggal 1 Januari 2014 Group Odoj "Ababil" dilaunching dengan format yang "unik". Dengan anggota 30 orang yang semua luar biasa. Odoj Ababil menggabungkan tiga format setoran, melalui SMS-BB-WA. Tentu saja keunikan ini bertujuan untuk mengakomodir semua anggota yang tidak semua memiliki keperluan yang sama terkait Gadget. Jangan sampai motivasi yang kuat untuk berodoj batal gara-gara tidak punya WA, jangan sampai kepentingan akhirat dibatasi oleh Gadget...(nyambung nanti...).

Selasa, 18 Februari 2014

Khalifah Umar Bin Khatab. RA

Benarkah Pernah Mengubur anak Perempuannya Hidup-hidup?

By. Abu Majid & OneDay-OneJuz Community


     Umar bin Khatab, sosoknya yang ‘angker’ dan beringas dimasa jahiliyah seolah membenarkan cerita yang selama ini berhembus. Sebagian besar kaum muslimin pasti pernah pula mendengar dan bahkan meyakini kebenaran cerita bahwa Umar bin Khatab pernah mengubur hidup-hidup anak perempuannya dimasa jahiliyah.
Beberapa saat yang lalu seorang ustad menceritakan bagaimana Umar bin Khatab mengubur anaknya. Suatu ketika Umar mengajak anak perempuanya yang berumur sekitar 8-10 tahunan. Umar mengajak anak perempuanya itu menggali lubang bersama-sama, ketika umar menggali, sang anak bertugas menyingkirkan tanah galian tersebut. Dan ketika giliran sang anak menggali, umar bertugas menyingkirkan tanah galian, begitu seterusnya hingga ketika giliran sang anak menggali, dan lubang itu dalamnya telah melebihi kepala sang anak, maka dengan cepat umar menimbun lubang itu dengan tanah galian yang berada disisi-sisi lubang. Ketika timbunan itu hampir menutup kepalanya, sang anakpun berkata “ Ayah, apa salahku sehingga ayah menguburku demikian rupa”. Moment itulah yang diceritakan bahwa umar selalu menangis tersedu-sedu ketika mengingat anak perempuanya. Cerita ini dikemas begitu apiknya, sehingga dengan didukung sosok Umar bin Khatab sendiri, membuat kita membenarkan dan menyakini kisah tersebut.

Bagaimanakah sebenarnya kisah itu, benarkah Umar pernah melakukannya ?
Dari Riwayat Shohih yang mana kisah tersebut berdasar ?
Sebaliknya, fakta-fakta bahwa kisah tersebut adalah dusta belaka dapat dibuktikan dari beberapa naskah, diantaranya :

1. Di dalam kitab-kitab Hadits Ahlus Sunnah wal Jama’ah, riwayat tersebut tidak ada sama sekali. baik itu kitab Hadits Shohih maupun Hadits Dho’if. Bahkan di dalam kitab Tarikh (sejarah) Islam yg ditulis para ulama Ahlus Sunnah pun tidak ada dan tidak pernah disebutkan.

2. Riwayat ini sebenarnya sangat sering disebutkan dan disebarluaskan oleh orang-orang Syi’ah Rofidhoh yg sesat , karena mereka sangat dengki kepada para khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khoththob, dan para sahabat radhiyallahu anhum.

3. Umar bin khatab RA berasal dari kabilah Bani Adiy, dan mengubur hidup-hidup anak perempuan bukanlah tradisi dan kebiasaan keluarga kabilah Bani Adiy di masa Jahiliyah.
buktinya bahwa Umar bin Khoththob menikah dengan seorang wanita yg bernama Zainab binti Mazh’uun (saudari Utsman bin Mazh’uun radhiyallahu ‘Anhu), dan melahirkan beberapa anak, diantaranya Hafshoh, Abdurrahman dan Abdullah bin Umar bin Khoththob RA.
Hafshoh adalah anak perempuan Umar bin Khoththob yg paling besar. Ia dilahirkan 5 tahun sebelum diutusnya Rasululloh sebagai Nabi dan Rasul. Demikian pula Umar memiliki saudari kandung yang bernama Fathimah binti al-Khoththob.
Jadi, sekiranya mengubur hidup-hidup anak perempuan adalah tradisi dan kebiasaan keluarga Umar bin Khoththob dan Bani Adiy, maka kenapa Hafshoh dan Fathimah binti Khoththob dibiarkan masih hidup hingga dewasa? Bahkan Hafshoh binti Umar bin Khoththob menjadi salah satu istri Nabi shallallahu alaihi wasallam.
Padahal Hafshoh adalah anak perempuan Umar bin Khoththob yg paling besar. Lalu anaknya yang mana yang dikubur hidup-hidup oleh Umar bin Khatab ?
Kisah/kejadian inipun tidak pernah diceritakan oleh anak-anak Umar dan keluarganya setelah mereka memeluk agama Islam?

4. Hadits Shohih yang menunjukkan bahwa Umar bin Khoththob RA tidak pernah mengubur anak perempuannya hidup-hidup di masa Jahiliyyah. Yaitu riwayat berikut ini:
An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu anhu berkata: “Aku pernah mendengar Umar bin Khoththob berkata ketika ditanya tentang firman Allah (yg artinya) : “Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya.” (QS. At-Takwir: 8)

Umar menjawab: “Qois bin ‘Ashim pernah mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam seraya berkata; “Sesungguhnya aku pernah mengubur hidup2 delapan anak perempuanku di masa Jahiliyyah.” Maka Nabi berkata kepada Qois: “Merdekakanlah seorang budak untuk setiap anak perempuan (yang engkau kubur hidup-hidup).” Qois menjawab: “Aku memiliki Onta.” Nabi berkata: “jika engkau mau, bersedekahlah dengan seekor Onta untuk setiap anak perempuanmu yang engkau kubur hidup-hidup.”

(Diriwayatkan oleh Al-Bazzar 1/60, Ath-Thobroni di dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 18/337, dan Al-Haitsami berkata; “Dan para perawi (dalam isnad) Al-Bazzaar adalah para perawi yg ada dlm kitab Ash-Shohih (Shohih Bukhari/Muslim), kecuali Husain bin Mahdi al-Ailiy, dia perawi yg tsiqoh (terpercaya).”, (Lihat Majma’ Az-Zawaid VII/283. Dan hadits ini dinyatakan SHOHIH oleh syaikh Al-Albani di dalam Silsilatu Al-Ahaadiitsi Ash-Shohiihati no.3298).

Hadits Shohih yang diriwayatkan oleh Umar bin Khoththob RA ini menerangkan tentang kaffaroh (penebus dosa) bagi orang yang pernah mengubur hidup-hidup anak perempuan di masa Jahiliyyah. Mengapa Umar bin Khoththob hanya meriwayatkan tentang perbuatan Qois bin Ashim, dan ia tidak menceritakan tentang dirinya ?. Ini membuktikan bahwa Umar bin Khoththob tidak pernah mengubur hidup-hidup anak perempuannya, sebagaimana riwayat dusta yang beredar di tengah kaum muslimin.

Semoga Allah melindungi kita semua dari bahaya riwayat-riwayat dusta dan batil dalam urusan agama Islam, dan semoga Alloh memberikan kecerdasan kepada kita dalam memahami Dienul Islam. Wallahu a’lam bish-showab.(dari berbagai sumber///)

Senin, 17 Februari 2014

Khanzab, setan spesialis shalat


By: Abu Majid and OneDay-OneJuz Community

      Kita semua paham pentingnya ibadah sholat dalam kehidupan seorang muslim. Didalam Al-Qur’an maupun Al-Hadist pun telah dijelaskan bahwa Amalan ibadah seseorang itu akan ditentukan oleh kualitas ibadah sholatnya. Ibarat wadah/kantong, maka sholat adalah tempat menampung semua amalan baik yang dilakukan oleh seorang muslim. Jika kantong itu berlubang-lubang maka sudah barang tentu barang-barang yang dimasukkan kedalamnya akan berceceran kemana-mana.

Iblispun sangat paham bahwa Shalat adalah ibadah paling menentukan posisi seorang hamba di akhirat kelak. Jika shalatnya baik, maka baiklah nilai amal yang lain, begitu pula sebaliknya. Wajar jika iblis menugaskan tentara khususnya untuk menggarap proyek ini. Ada setan khusus yang mengganggu orang shalat, menempuh segala cara agar shalat seorang hamba kosong dari nilai atau minimal rendah kualitasnya. Setan itu bernama ‘Khanzab’.


Utsman bin Affan pernah bertanya kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, setan telah mengganggu shalat dan bacaanku.” Beliau bersabda:
“Itulah setan yang disebut dengan ‘Khanzab’, jika engkau merasakan kehadirannya maka bacalah ta’awudz kepada Allah dan meludah kecillah ke arah kiri tiga kali.” (HR Ahmad) 

Utsman melanjutkan: “Akupun melaksanakan wejangan Nabi tersebut dan Allah mengusir gangguan tersebut dariku.”

Di posisi mana saja Khanzab merusak sholat kita ?

1. Melafazhkan Niat

Sebagaimana halnya dengan wudhu, serangan pertama yang dilakukan setan kepada orang yang shalat adalah menyibukkan ia untuk melafazhkan niat. Terkadang diiringi dengan gerakan aneh, dia membaca niat lalu mengangkat tangannya, lalu gagal dan diturunkan kembali tangannya. Dia ulangi lagi seperti itu berkali-kali hingga terkadang imam sudah rukuk atau sujud, sementara ia masih dipermainkan setan dalam niat dan takbirnya. Di dalam wudhu pun kita sering disibukkan dengan pikiran benar atau salah niat wudhu, sudah pas atau belum urutannya dll.

Niat dan usaha menghadirkan hati memang dituntut ketika hendak shalat, namun tak ada tuntunan sedikitpun bagi orang yang hendak shalat untuk melafazhkan niatnya. Sebaiknya kita kaji ulang pemahaman kita mengenai tuntunan melafadzkan niat ini.

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah di dalam Zaadul Ma’ad berkata:
Nabi memulai shalatnya dengan bacaan ‘Allahu Akbar’, dari Nabi beliau tidak membaca apapun sebelumnya dan tidak melafazhkan niatnya sama sekali. Beliau tidak mengatakan: ushalli.., ‘aku niat shalat anu karena Allah menghadap kiblat empat rekaat sebagai imam (sebagai makmum)..” Tidak pula beliau mengatakan ‘ada’an’ atau ‘qadha’an’, atau ‘fardhan’ dan sebagainya. Semua itu adalah bid’ah yang tidak disebutkan sedikitpun dalam hadits yang shahih, atau dha’if, tidak pula terdapat dalam musnad atau mursal, walau hanya satu kalimat saja. Bahkan tak satupun sahabat mengerjakannya, tidak ada tabi’in yang menganggapnya baik, begitupun dengan empat imam madzhab. 

Orang-orang belakangan yang membacanya keliru memahami perkataan Imam Syafi’i yang berbunyi 'shalat itu tidak sebagaimana shaum, tidak ada orang yang memulai shalat kecuali dengan dzikir’. Mereka menyangka bahwa maksud beliau adalah melafazhkan niat, padahal yang dimaksud tidak lain hanyalah takbiratul ihram.”

2.Ingat Ini..Ingat Itu !

Serangan kedua, setan akan mendatangi orang yang tengah mengerjakan shalat untuk mengingatkan urusan di luar shalat. Maka berapa banyak orang yang jasadnya mengerjakan shalat namun hatinya sibuk menghitung laba rugi perniagaan, mengingat barang yang telah hilang, atau bahkan urusan ‘kebaikan’ yang tidak ada hubungannya dengan shalat. Tidak heran jika usai shalat seseorang menjadi ingat letak barang yang mana ia telah lupa sebelumnya. Setan rela ‘membantu’ orang itu untuk mengingatkan dan menemukan barangnya kembali, asalkan shalat yang dikerjakan menjadi rusak dan tidak bermutu. Pernah di zaman salaf seseorang kehilangan barang, seseorang menyarankan agar ia mengerjakan shalat dan diapun segera melaksanakan shalat. Ajaib, usai shalat tiba-tiba dia beranjak dari tempatnya dan mengambil barang yang telah dia ingat letaknya ketika shalat. Diapun ditanya: “Apa yang Anda dapatkan ketika shalat?” Dia menjawab: “Aku mendapatkan bahwa setan mencuri perhatian saya dari shalat.” 

Ada yang terlalu asyik dengan khayalan dan pikirannya tentang urusan di luar shalat, hingga dia lupa sudah berapa rekaat yang telah dia kerjakan. Tentang godaan setan ini, Nabi SAW. bersabda:
“Jika adzan untuk shalat dikumandangkan, setan akan lari terbirit-birit sambil mengeluarkan bunyi kentutnya sehingga tidak mendengar adzan. Jika adzan telah usai diapun akan kembali menggoda. Ketika iqamah dikumandangkan setanpun akan lari hingga usai iqamah setan akan mendatangi orang yang shalat lalu membisikkan ke hati seseorang sembari berkata: ‘Ingat ini..ingat itu..’ setan mengingatkan apa-apa yang telah dia lupakan hingga seseorang tidak mengetahui berapa rekaat yang telah ia kerjakan.” (HR al-Bukhari) 

3.Ragu antara Kentut dan Tidak

Ada kalanya muncul dalam benak seseorang keraguan, apakah dia kentut ataukah tidak. Ini adalah keraguan yang dihembuskan oleh setan untuk mengacaukan shalat seseorang. Dia tidak lagi konsentrasi dengan shalatnya karena ragu, atau dia akan membatalkan shalatnya, lalu dia berwudhu dan memulai shalatnya lagi, lalu akan digoda lagi dengan cara yang sama. Sehingga untuk satu shalat dia bisa mengulangi tiga sampai empat kali berwudhu. Bisa dibayangkan, seandainya ada lima orang saja dalam satu masjid yang terkena godaan ini, niscaya cukup membuat kacau jama’ah yang lain.

Untuk menangkal godaan tersebut Nabi memberikan solusi dan informasi:
“Jika salah seorang di antara kalian mendapatkan yang demikian itu maka janganlah membatalkan shalatnya hingga dia mendengar suaranya dan mencium baunya tanpa ragu”. (HR Ahmad)

Di antara ulama ada yang menyebutkan bahwa hadits ini merupakan salah satu pengecualian dari hadits da’ ma yariibuka ilaa ma laa yariibuka, tinggalkan apa yang meragukan dan ambil sesuatu yang tidak meragukan. Dalam kasus ini kita dilarang membatalkan shalat kendati berada dalam keraguan antara kentut dan tidak, kecuali jika mencium bau kentut atau mendengar suaranya.

4.Mencuri Perhatian

Kita juga sering melihat atau bahkan mengalami sendiri menengok/melirik ketika shalat terkadang tanpa terasa karena terbiasa. Ini juga tak lepas dari serangan setan yang ingin merusak shalat kita. Nabi ditanya tentang orang yang menoleh ke kanan dan ke kiri, beliau menjawab:
“Itu adalah setan yang mencuri perhatian seorang hamba dari shalatnya.” (HR Al-Bukhari dan Abu Dawud)

Untuk menangkal serangan ini, hendaknya orang yang shalat berusaha menghadirkan hatinya, bahwa dia tengah berhadapan dengan Allah Yang Maha Berkuasa atas segalanya. Jika Anda malu atau takut menoleh ke kanan dan ke kiri ketika berbicara kepada pejabat, lantas bagaimana halnya jika Anda sedang berkomunikasi dengan sang pencipta dan Penguasa para pejabat itu? (Ar risalah & OneDay-OneJuz Community)