Biarkan air mata ini mengalir bersama dengan dosa-dosa yang teringat. Lelapkan semua kesemuan dunia yang hanya sementara. Bukalah sedikit matamu untuk melihat dunia yang abadi, telungkupkanlah tanganmu untuk memberi... Berikan senyummu agar orang lain merasakan kabahagiaanmu... mari lukis perasan hati mencintaiNya dengan keimanan dan ketakwaan. Bismillah...

Sabtu, 27 November 2010

Sayangi Bapak Ibuku Yaa ALLOH........!! (Bag.2)

     BACA BAGIAN 1 DULU YAA...!!
     Jam setengah enam aku sudah sampai dirumah, Bapak ibuku sudah menunggu diruang tamu, dimeja terhidang teh panas dan Pisang goreng yang dijanjikan ibuku.
”Ayo Hariman, kita ngobrol disini, bapakmu sudah sejak tadi menunggu” kata ibuku sembari menuang teh kedalam gelas bapak. Aku segera duduk dan mengambil sepotong pisang goreng, hangat. Ahh..harum, masih khas seperti pisang goreng buatan ibuku 20 tahun lalu. Dulu ketika Aku SMA, karena jauh aku terpaksa Kost, dua minggu sekali setiap sabtu sore aku pulang, ibuku sudah menyiapkan sepiring pisang goreng dimeja. Aku masih bisa merasakan bau harum yang sama dengan pisang goreng yang ada ditanganku. “ Gimana Man, ketemu sama teman-temanmu” Tanya Bapak sembari menyeruput teh ditangannya. “Itulah Pak, kenapa semua berubah ya. Aku tidak ketemu temanku seorangpun” jawabku. Bapak hanya manggut-manggut.tanpa komentar.
Ibu menuangkan teh kedalam gelas didepanku, kemudian beliau mengambil satu sendok gula dan mengaduknya untukku.


"Ibu... tidak usah repot-repot Bu, aku khan sudah dewasa"  pintaku pada Ibu. Wajah tua itu langsung berubah.Beliau tertegun dan terdiam. Pun ketika kemarin ibu belanja sayuran pada pedagang sayur keliling yang lewat didepan rumah. Buru-buru kukeluarkan uang dan kubayar semuanya. Ingin kubalas jasa Ibu selama ini dengan hasil keringatku. Raut sedih itu tak bisa disembunyikan. Aku merasa heran,Kenapa tiba-tiba Ibu mudah sekali sedih ? Aku hanya bisa mereka-reka, mungkin sekarang fasenya aku mengalami kesulitan memahami Ibu karena dari sebuah artikel yang kubaca ... orang yang lanjut usia bisa sangat sensitiv dan cenderung untuk bersikap sedikit kanak-kanak ..... tapi entahlah.... Niatku ingin membahagiakan malah membuat Ibu sedih. Seperti biasa ketika ibu bertengkar dengan bapak, Ibu tidak akan pernah mengatakan apa-apa ,ibu akan diam hingga semuanya membaik kembali.begitupula saat ini.
 "Bu, maafkan hariman kalau telah menyakiti perasaan Ibu. Apa yang membuat Ibu sedih ? "
Kutatap sudut-sudut mata Ibu, ada genangan air mata di sana. Terbata-bata Ibu berkata,  " Tiba-tiba Ibu merasa kalian tidak lagi membutuhkan Ibu. Kalian sudah dewasa, sudah bisa menghidupi diri sendiri. Ibu tidak boleh lagi menyiapkan uang saku untuk kalian, Ibu tidak bisa lagi menyiapkan sarapan pagi  kalian. Semua sudah bisa kalian lakukan sendiri. Ibuku sendu.
Ah, Ya Allah, ternyata buat seorang Ibu .. bersusah payah melayani anak-anaknya adalah sebuah kebahagiaan.
Satu hal yang tak pernah kusadari sebelumnya. Niat membahagiakan bisa jadi malah membuat orang tua menjadi sedih karena kita tidak berusaha untuk saling membuka diri melihat arti kebahagiaan dari sudut pandang masing-masing.
Diam-diam aku bermuhasabah. .. Apa yang telah kupersembahkan untuk Ibu dalam usiaku sekarang ? Adakah Ibu bahagia dan bangga pada anak-anaknya ?
 Pada hari raya Iedul Fitri kemarin di telpon sempat kutanyakan pada ibuku. Ibu menjawab, "Banyak sekali kebahagiaan yang telah kalian berikan pada Ibu."
“Kalian tumbuh sehat dan lucu ketika bayi adalah kebahagiaan . Kalian berprestasi di sekolah adalah kebanggaan buat Ibu. Kalian berprestasi di pekerjaan adalah kebanggaan buat Ibu . Setelah dewasa, kalian berprilaku sebagaimana seharusnya seorang hamba, itu kebahagiaan buat Ibu. Setiap kali binar mata kalian mengisyaratkan kebahagiaan di situlah kebahagiaan orang tua. Ketika cucu-cucuku berceloteh ditelepon, itu adalah kebahagiaan"
Lagi-lagi aku hanya bisa berucap, "Ampunkan aku ya Allah kalau selama ini sedikit sekali ketulusan yang kuberikan kepada Bapak Ibu. Aku Masih banyak beralasan ketika Ibu menginginkan sesuatu. "
Betapa sabarnya Ibuku melalui liku-liku kehidupan. Sebagai seorang Petani miskin kapankah Ia pernah “cuti” dari mengurus anak-anak, bahkan dalam sakitpun masih tidak dirasakan. Semua demi anak-anaknya agar bisa tetap merasakan sesuap nasi. Aku masih ingat betul Kebiasaan ibuku setiap hari adalah menerima pesanan-pesanan dari aku,kakaku dan adik-adikku “Bu, besok bangunin jam lima ya, aku mau belajar” atau” bu aku dibangunin pagi-pagi biar bisa sholat dimesjid “. Ibu tidak pernah lupa melaksanakan perintah-perintah kami. Meski tak jarang setelah ibu kembali kedapur  untuk menyiapkan sarapan, aku dan adik-adik sering tertidur lagi...tidak jadi bangun.
Ah, maafkan kami Ibu ... 18 jam sehari sebagai "pekerja" seakan tak pernah membuat Ibu lelah.. Sanggupkah aku ya Allah ?
Aku segera beringsut mendekati Ibuku, kuambil gelas dan sendok dari tanganya, kurangkul Ibu sehangat mungkin, kuciumi pipinya yang mulai keriput, kutatap matanya lekat-lekat seraya kuucapkan, " Terimakasih Ibu, aku beruntung sekali memiliki Ibu dan Bapak yang baik hati, ijinkan aku membahagiakan Ibu...Ibu dan Bapak telah banyak berkorban untuk kami, seharusnyalah kami yang gantian melayani Bapak dan Ibu".
Kulihat binar kebahagiaan dimatanya, demikianpula Bapak . Bapak Ibu, Aku masih sangat membutuhkan kalian. .. Maafkan aku yang belum bisa menjabarkan arti kebahagiaan untuk Bapak dan Ibu........( SRT )

Sahabat.. tidak selamanya kata sayang harus diungkapkan dengan kalimat "aku sayang padamu... ", namun begitu, Rasulullah menyuruh kita untuk menyampaikan rasa cinta yang kita punya kepada orang yang kita cintai karena Allah.
Mari kita mulai dari orang terdekat yang sangat mencintai kita ... Istri/Suami, anak-anak, Ibu dan Bapak walau mereka tak pernah meminta dan mungkin telah tiada.
Percayalah.. . kata-kata itu akan membuat mereka sangat berarti dan bahagia.  Wallaahua'lam
"Ya Allah, cintai Bapak Ibuku, beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakan nya..., dan jika saatnya nanti mereka Kau panggil, panggillah dalam keadaan khusnul khatimah. Ampunilah segala dosa-dosanya dan sayangilah ia sebagaimana ia menyayangi aku selagi aku kecil"
Bukit Sekatup Damai, Akhir Nopember 2010

Sayangi Bapak Ibuku Yaa ALLOH.....!! (Bag.1)

                                                                    Aku tergagap dan segera kusingkap selimut dari tubuhku, diluar riuh terdengar suara burung-burung mencari makan di pepohonan belakang rumah.. Segera kulipat selimut dan merapikan tempat tidurku, setelah itu aku bergegas menuju “padasan” dibelakang rumah. Ahh…airnya tinggal sedikit, bagaimana cukup untuk berwudlu, pikirku. mataku mencari-cari ember yang biasanya telah disiapkan oleh bapak untuk menambah air wudlu. Bapak memang luar biasa, meski beliau belum “mau” menjalankan sholat lima waktu, namun Air padasan ini tidak pernah kosong. Setiap pagi dan sore Bapak selalu mengisinya. Selain itu, sebelum pergi ke kebun bapak juga tak lupa menaruh seember air untuk jaga-jaga bila air wudlu habis.Tetapi aku yang masih duduk dikelas dua SMP belum mampu mencerna betapa bertanggung jawabnya bapak. Aku segera menuang air dari ember kedalam padasan, Hari kian terang tanah, aku bergegas kedalam kamar dan melaksanakan sholat subuh. Tak seperti biasanya, malam tadi selepas dari masjid dan usai  belajar mataku susah sekali untuk bertahan dari kantuk, biasanya hari apapun selesai belajar aku segera berkumpul dengan teman-temanku di gardu ronda, tanpa penerangan lampu kami bercanda, bermain aneka permainan disekitar gardu. Aku tak pernah berpikir akankah suatu ketika PLN masuk kekampungku. Sekitar jam 23.00 biasanya bapak-bapak kami yang bertugas meronda baru mulai berdatangan. Sebagian dari kami segera pulang menuju rumah masing-masing, Aku dan beberapa temanku lebih sering tidur dimasjid. Sehingga kalau ada diantara kami yang tidak pulang, orangtua kami tidak akan kebingungan mencari.” Mas, sudah mandi belum sih, sudah jam enam lebih “Rini adik perempuanku yang masih kelas tiga SD  bertanya ketika melihat aku keluar dari ruang sholat masih mengenakan sarung.”Belum, aku kesiangan, Mas nata mana ?” aku balik bertanya.” Belum bangun, tuh di ruang depan” kata adikku sembari sibuk mengikat tali sepatunya. Mas Nata memang tidak pernah bangun sebelum jam enam, dia baru akan bangun jam setengah tujuh, mandi kemudian mengayuh sepedanya kencang-kencang menuju sekolah yang berjarak lima kilometer dari rumah. Meski mas nata dan aku selisih tiga tahunan, tapi kami sama-sama duduk dikelas dua SMP, mas nata memang malas belajar sehingga beberapa kali harus tinggal kelas. Aku satu kelas dengan kakakku sejak kelas empat SD.
      Selesai mandi dan mengenakan seragam aku segera sarapan. Tidak banyak yang dimasak ibuku, dimeja makan hanya ada nasi, beberapa potong tempe goreng, telur dadar dan sayur bayam. Setiap hari Bapak dan Ibuku pagi-pagi sekali sudah pergi kekebun, bahkan kami sering hanya berkumpul kala malam hari. Namun demikian Ibuku memang terbiasa bangun jam sebelum subuh, kemudian sibuk didapur dan ketika hari sedikit terang bapak dan ibu ku segera berangkat kekebun. Sebelum pergi ibuku tak lupa menaruh uang duaratus rupiah untuk ongkos angkotku kesekolah. Terkadang jika tidak sempat menukarkan uang receh, beliau menaruh uang seribu rupiah untuk ongkosku lima hari.
“ Hariman, bangun... sudah mau adzan subuh. Katanya mau sholat subuh dimasjid, katamu mau ketemu teman-temanmu..." Tangan Ibuku menyentuh lembut dan menggoyang-goyang pundakku, aku segera membuka mata dan memandangi ibuku yang berdiri disisi tempat tidurku.” Kenapa, kamu bermimpi Man ?” Tanya ibuku ketika melihatku masih terdiam, ditepuk-tepuk kedua pipiku dengan lembut. “ Ayo bangun, sebentar lagi adzan, jadi kemasjid tidak” Ibuku mengulagi pertanyaanya padaku. Aku segera bangun dan duduk disisi tempat tidur.Kuraih kedua tangan ibuku, tangan yang kini telah keriput, ku elus dan kucium tangan itu.” Bu..terimakasih dan hariman minta maaf atas kesalahan-kesalahan hariman” Kataku kemudian. ” Hariman kamu kenapa,pagi-pagi begini kok ngomongnya nggak karuan” ibuku sedikit heran.”Tidak apa-apa bu, aku hanya merasa bahwa selama ini aku kerap melalaikan bapak dan Ibu, sekarangpun aku cuti hanya beberapa hari, setelah itu akupun harus kembali kekalimantan untuk bekerja dan entah kapan lagi bisa mengunjungi bapak dan Ibu” kataku sendu.” Ssst..sudahlah,nanti kita ngobrol lagi ya, sekarang segera mandi dan pergi kemasjid, aku dan bapakmu sholat dirumah. Sepulang dari masjid kita minum teh, ibu telah buatkan Pisang goreng kesukaanmu” kata ibuku sambil tersenyum. Selesai mandi dan berganti pakaian aku bergegas pergi kemasjid. Sepanjang jalan menuju masjid tak henti-hentinya kuucapkan syukur kepada Robb, dua hari yang lalu, aku tiba dirumah orangtuaku. Aku memang mneyempatkan waktu libur 3 hari usai dinas dijakarta untuk menjenguk kedua orangtuaku. Aku bersyukur,terkejut sekaligus merasa malu. Batapa tidak Dulu bapakku yang pernah marah besar padaku, gara-gara aku mengatakan tidak ada gunanya Bapak membakar kemenyan dan dupa setiap tanggal 1 suro, kini berbalik 180 derajat. Beberapa menit sebelu adzan sholat lima waktu,bapak sudah duduk terpekur di ruang sholat. Selesai sholat beliau juga betah berlama-lama bermunajat kepada Alloh. Sedangkan Aku, aku masih sering terburu-buru, usai sholat hanya berdo’a secukupnya lalu sibuk lagi dengan kesibukan duniawiku.

Adzan sudah berkumandang, aku mempercepat langkahku. sampai didepan masjid aku merasa heran, hanya beberapa pasang sandal jepit disana, kemana yang lainya pikirku. Aku segera masuk dan berdiri diantara orang-orang untuk menunggu adzan selesai dikumandangkan.Kusalami beberapa orang dikanan kiriku.”Mas Hariman,kapan datang, apa khabarnya “bisik Pak Fauzan yang berdiri disebelah kananku. ”Alhamdulillah Baik Pak, saya datang kemarin sore “ bisikku pula. Beberapa orang yang lain memandangku,mengangguk dan tersenyum, barangkali ingin bertanya pertanyaan yang sama dengan Pak Fauzan. Kepulanganku ini memang yang pertama setelah lima tahun aku bekerja di Kalimantan. Wajar kalau kedatanganku menimbulkan Tanya, kok baru pulang, sibuk ya ?? begitu kira-kira.
Beberapa saat kemudian Sholat subuh didirikan, suasana yang berbeda dengan belasan tahun yang lalu, dulu ketika sholat subuh begini banyak sekali anak-anak berjamaah.Namun sekarang, kemanakah generasi setelah itu ? adakah kemajuan jaman justru merenggut mereka, dengan adanya PLN yang masuk beberapa tahun lalu, telah mengubah pilihan generasi adik-adikku. Mereka lebih betah tinggal dirumah didepan televisi hingga larut malam sehingga bangun terlambat.Berbagai pertanyaan muncul dibenakku..........BERSAMBUNG

Kamis, 25 November 2010

Berjalanlah Lebih Lambat.........!!!

               Disebuah kota Metropolitan, Tersebutlah seorang pengusaha muda dan bertumpuk kekayaan. Ia baru saja membeli mobil mewah, sebuah Jaguar warna hitam yang mengkilap, terlalu sulit orang awam untuk menerka berapa rupiah harga jaguar itu.

Kini, sang pengusaha, sedang menikmati perjalanannya dengan mobil baru itu. Dengan kecepatan bervariasi, dipacunya kendaraan itu mengelilingi jalanan sekitar hingga ke pinggiran kota dengan penuh rasa bangga dan prestise. Di pinggir jalan, tampak beberapa anak yang sedang bermain sambil sesekali mengganggu kendaraan yang melintas. Namun, karena berjalan terlalu kencang, tak terlalu diperhatikannya anak-anak itu.
Tiba-tiba, dia melihat seseorang anak kecil yang melintas dari arah mobil-mobil yang di parkir di tepi jalan. Tapi, bukan anak-anak yang tampak melintas sebelumnya.
"Buuk….!"  Aah…, ternyata, ada sebuah batu seukuran kepalan tangan yang menimpa Jaguar itu yang dilemparkan si anak itu. Sisi pintu mobil itupun koyak, tergores batu yang dilontarkan seseorang.
"Cittt…." ditekannya rem mobil kuat-kuat. Dengan geram, dimundurkannya mobil itu menuju tempat arah batu itu di lemparkan. Jaguar yang tergores, bukanlah perkara sepele. Apalagi, kecelakaan itu dilakukan oleh orang lain, begitu pikir sang pengusaha dalam hati. Amarahnya memuncak. Dia pun keluar mobil dengan tergesa-gesa. Di tariknya anak yang dia tahu telah melempar batu ke mobilnya, dan di pojokkannya anak itu pada sebuah mobil yang diparkir.
"Apa yang telah kau lakukan…!? Sialan,Lihat perbuatanmu pada mobil baruku….!! Lihat goresan itu", teriaknya sambil menunjuk goresan di sisi pintu.
"Kamu tentu paham, mobil baru jaguarku ini akan butuh banyak ongkos dibengkel untuk memperbaikinya." Ujarnya lagi dengan kesal dan geram, tampak ingin memukul anak itu.
Si anak tampak menggigil ketakutan  pucat pasi wajahnya, dengan terbata dia berusaha meminta maaf.
"Maa…maa..Maaf Pak, Maaaf. Saya benar-benar minta maaf. Sebab, saya tidak tahu lagi harus melakukan apa."
Air mukanya tampak ngeri, dan tangannya bermohon ampun.
"Maaf Pak, saya terpaksa melemparkan batu itu, karena tak ada seorang pun yang mau berhenti…."
Dengan air mata yang mulai berjatuhan di pipi dan leher bercampur keringat dingin karena takut, anak itui menunjuk ke suatu arah, di dekat mobil-mobil parkir tadi.
"Itu disana ada kakakku yang lumpuh. Dia tergelincir, dan terjatuh dari kursi roda. Saya tak kuat mengangkatnya, dia terlalu berat, tapi tak seorang pun yang mau menolongku. Badannya tak mampu kupapah, dan sekarang dia sedang kesakitan.." Kini, ia mulai terisak.
Dipandanginya pengusaha tadi. Matanya berharap pada wajah yang perlahan mulai tercenung itu.
"Maukah Bapak membantuku mengangkatnya ke kursi roda? Tolonglah, kakakku terluka, tapi saya tak sanggup mengangkatnya."
Tak mampu berkata-kata lagi, pengusaha muda itu terdiam.
          Wajahnya yang garang mulai melunak, amarahnya mulai sedikit reda setelah dia melihat seorang lelaki belasan tahun  tergeletak yang sedang mengerang kesakitan.
Kerongkongannya tercekat. Ia hanya mampu menelan ludah. Segera dia berjalan menuju anak lelaki tersebut, di angkatnya si cacat itu menuju kursi rodanya.

Kemudian, diambilnya sapu tangan mahal miliknya, untuk mengusap luka di lutut yang memar dan tergores, seperti sisi pintu Jaguar kesayangannya.
Setelah beberapa saat, kedua anak itu pun berterima kasih, dan mengatakan bahwa mereka akan baik-baik saja.
"Terima kasih, dan semoga Tuhan akan membalas semua kebaikan  Bapak."
Keduanya berjalan beriringan, meninggalkan pengusaha yang masih nanar menatap kepergian mereka. Matanya terus mengikuti langkah sang anak yang mendorong kursi roda itu, melintasi sisi jalan entah menuju kemana.
Berbalik arah, pengusaha tadi berjalan sangat perlahan menuju Jaguar miliknya. Ditelusurinya pintu Jaguar barunya yang telah tergores oleh lemparan batu tersebut, sambil merenungkan kejadian yang baru saja di lewatinya.
Kerusakan yang dialaminya bisa jadi bukanlah hal sepele, tapi pengalaman tadi menghentakkan perasaannya. Kehidupanya yang selalu “mulus” menjadikanya tak pernah terbetik kejadian seperti yang barusan dia alami.
Akhirnya ia memilih untuk tak menghapus goresan itu. Ia memilih untuk membiarkan goresan itu, agar tetap mengingatkannya pada hikmah ini. Ia menginginkan agar pesan itu tetap nyata terlihat:
"Janganlah melaju dalam hidupmu terlalu cepat, karena, seseorang akan melemparkan batu untuk menarik perhatianmu."
Saudaraku, seperti kendaraan, hidup akan terus melaju dari waktu ke waktu. Detik-detik berlalu menyeret kita ke akhir hidup ini.
          Dan kita adalah pengusaha muda tadi. Kita fokus dengan apa yang kita kejar. Kita nikmati hasil usaha kita sendiri. Kita bahagia sendirian. Kita pacu kendaraan kita dengan cepat. Kita injak pedal hidup kita dengan mantap untuk meraih tujuan di depan kita secepatnya. Hingga tak jarang kita lupa sekeliling kita.

Saat kita melaju ada banyak hal yang terjadi di kanan kiri kita. Banyak hal yang bisa kita jadikan pelajaran. Banyak hal yang sebenarnya adalah peringatan buat kita. Namun, kita melaju terlalu cepat. Kita terlalu fokus terhadap keinginan kita. Hingga kita lupa segalanya.

Allah tak pernah berhenti berbicara kepada kita. Dia berbicara lewat lidah orang-orang sekeliling kita. Ia berbicara lewat kejadian-kejadian di alam semesta. Bahkan, ia berbicara langsung kepada nurani kita. Namun, seringkali kita terlalu sibuk dengan diri kita dan tak punya waktu untuk sejenak mendengar ujaran-Nya. Berbagai bencana dan cobaan yang terjadi di negeri kita tercinta ini merupakan teguran buat kita yang selama ini berpaling dari-Nya
.   (NN / SRT)

Selasa, 23 November 2010

Menikah Lagi.., Hal Nastatiq .....??

                                                                 “Anaa mau kawin lagi, maa ro’yuka Akhi…..?” Kata Lukman suatu ketika.
“ Wah..kejutan nih, Baarokallohu yaa Akhi Lukman, luar biasa, Hal anta laiba ?? “ jawab Furqon.” Kaifa….Jauzatuka, apa dia setuju.” Sambungnya.
“Anaa serius dan Jauzati setuju, bahkan dia malah ngasih pandangan bagaimana memilih istri baru” kata lukman bangga.
“Memangnya  kamu sudah pikirkan masak-masak Luk !!, bukankah anakmu sudah tiga dan masih kecil-kecil lagi, lalu apa masalahnya kamu mau kawin lagi” timpal Wandi meragukan kesanggupan Lukman untuk menikah lagi.
“ Akhi ..anaa sudah pikirkan masak-masak, anaa ingin menjalankan sunnah Rosul” jawab Lukman meyakinkan. Aku hanya terdiam, sungguh luar biasa sahabatku yang satu ini, Dia sudah berpikir sampai sejauh itu, pikirku. Sedangkan aku?, aku bahkan belum bisa membahagiakan istriku, banyak sekali kekuranganku.banyak hal yang dikeluhkan istriku. Aku menyadari hal itu, dan akupun tak pernah menyalahkan istriku . Aku memang bukan type suami idola, setidaknya itu yang dikatakan istriku, penghasilankupun jauh dibawah rekan-rekanku yang sarjana.

“Bagaimana kamu siap menikah lagi Lukman, tak segampang itu meneladani Rosululloh, coba kamu pikir lagi…” kata Wandi dengan sedikit jengkel.
“Sabar….sabar Akhi, laa tagdhof, jangan marah-marah..kenapa anta jadi emosi, bukankah itu fikroh yang bagus, mestinya kita dukung dong saudara kita yang mau menjalankan sunnah Rosul “ Furqon mencoba menengahi,” Limadza anta menentang keinginan Akhi Lukman untuk menikah lagi, kalau memang dia sudah sanggup, mampu berbuat adil, istri juga setuju, bukankah tidak ada masalah ?, Kaifa akhi Hariman, kenapa anta dian saja”kata Furqon mencoba meminta pendapatku.”Eh ya…yaa benar “ jawabku tergagap.
“Wahh..anta enggak kompak, masak sejak tadi kita rebut-ribut, anta malah ngelamun.” Furqon menyindirku.Temanku yang satu ini memang sejak dulu terkenal paling dewasa, dia mampu menegahi berbagai permasalahan yang timbul diantara kami. Sejak kelas satu Tsanawiyah. Aku , Furqon, Lukman dan Wandi memang sahabat karib.kami sudah hafal tabiatnya dan sifat masing-masing. Wandi memang agak keras tapi tegas, dalam segala hal Wandilah yang pertamakali akan membantah, namun justru dari situlah kami akan mereview kembali permasalahan yang mungkin terlewatkan dari kami.
“Kaifa akhi Wandi, limadza anta tidak mendukung keinginan Akhi Lukman ?” Furqon beralih menatap Wandi.” Fur, kamu khan yang paling tahu agama, coba jelaskan syarat-syarat untuk berpoligami, terus apa bener sih wanita itu rela di duakan” saut Wandi sedikit melunak....................BERSAMBUNG

Selasa, 16 November 2010

Maafkan Aku Ayah.....!!

Cerita ini pernah saya kirim melalui webmail,  Namun mudah-mudahan masih tetap dapat meg-inspirasi kita bahwa “sebenarnya” apa sih yang kita cari,….. dan untuk siapa ??
          Sebuah keluarga  pasangan muda. Seperti pasangan lain di kota-kota besar yang “terbiasa” meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, gadis cantik berusia 3.5 tahun. sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur.

Si gadis sendirian bermain Air, bermain pasir, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.

Suatu hari dia menemukan sebatang paku yang sudah karatan. Ia amati paku itu dengan seksama, tersungging senyum manis dibibirnya yang mungil, entah apa yang dipikirkanya. Dan ia pun membungkuk mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada dinding, namun hasilnya tak memuaskan hatinya, kemudian pandanganya beralih pada mobil baru ayahnya yang baru dibeli akhir tahun lalu. Ia coba mencoret, kemudian mencoba lagi, lagi dan lagi. Ya... karena mobil baru itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Si gadis ini pun makin bersemangat membuat coretan-coretan sesuai dengan imajinasinya. Sesekali nampak senyumnya mengembang.

         
Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet,kebiasaan kota-kota besar setiap pagi memang macet, apalagi dua hari terakhir hujan mengguyur kota itu.
Kembali pada si gadis kecil, Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambar dirinya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.
Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si Ayah yang belum lagi masuk ke rumah ini pun langsung  menjerit, "Kerjaan siapa iniii….. !!!" tubuhnya bergetar hebat, pertanda menahan amarah yang amat sangat.
Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuan-nya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan “ Saya tidak tahu..tuan." "Mbok dirumah sepanjang hari, apa saja yg mbok lakukan?" hardik si isteri pula.
Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata "DIta yg membuat gambar itu ayahhh.. bagus ...kan!" katanya sambil memeluk ayahnya dengan bermanja seperti biasa. Si ayah yang sudah hilang kesabaran itu menghempaskan tubuh sikecil dan tanganya menyambar  sebatang ranting  dari pohon di depan rumahnya, dipukulnya tangan sigadis kecil terus dipukulkannya berkali2 ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula punggung tangan anaknya hingga terkelupas kulit ranting kayu tersebut.
Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, tubuhnya mematung seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan.
Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa,ia tidak berani membela momongan kecilnya... Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.
Dia terperanjat melihat telapak tangan dan punggung tangan si kecil luka2 dan berdarah,bahkan nampak cuilan-cuilan kulit kayu. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka2nya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah.Ia benar-benar merasa kesal luar biasa hari ini, Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. "Oleskan obat saja!" jawab bapak si anak.
Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga masih kesal, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. "Dita demam, Bu"...jawab pembantunya ringkas. "Kasih minum panadol aja ," jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya. Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. "Sore nanti kita bawa ke klinik. Pukul 5.00 sudah siap" kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya sudah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil ayah dan ibu anak itu. "Tidak ada pilihan..." kata dokter.” Maksud Dokter, Tanya suami istri tersebut hampir bersamaan”. Dokter tersebut mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut..."Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah" kata dokter itu. Si ayah dan ibu bagaikan tersambar halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.
Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Beberapa jam berlalu, Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih dan tidak merasakan jari-jemarinya. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. "Ayah.. ibu... Dita tidak akan melakukannya lagi.... Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi... Dita sayang ayah.. sayang ibu. Dita minta maaf..dita minta maaf.", katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. "Dita juga sayang Mbok
Narti.." katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.
Sikecil meng-amati kedua tanganya bergantian, ia merasa ada yng hilang, kemudian ia coba menggoyang-goyangkan kedua tanganya,namun tak terasa apa-apa. Iapun mulai menagis “ Ayah..ayah..mana tangan Dita..mana jari-jari Dita “ tangis sikecil semakin keras, membuat perasaan suami istri itu semakin teriris-iris.

"Ayah.. kembalikan tangan Dita. Ibu mana tangan Dita…Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti?... Bagaimana Dita mau bermain nanti?... Dita janji tdk akan mencoret-coret  mobil ayah lagi, Dita minta maaf ayah, Dita minta maaf ibuuu… " katanya berulang-ulang.

Hancur lebur  hati si ibu mendengar kata-kata gadis kecilnya.Dalam tidurpun si gadis kecil kerapkali menagis, mengigau meminta maaf ,tak jarang ia sampai terbangun ditengah malam sambil menangis dan baru terlelap lagi manakala ia sudah kelelahan menagis.Inilah yang semakin menambah hancur perasaan kedua orangtuanya,apalagi si ibu, Menjerit-jerit dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur.

 Pada akhirnya si gadis cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf….Ia tetap tidak bisa memahami sebesar apa kesalahan yang telah ia lakukan.

     Tahun demi tahun kedua orang tua tsb menahan kepedihan dan kehancuran bathin ,sampai suatu saat Sang Ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya…. yg tak bertepi...,
Namun..., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tsb tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya…ENTAH SAMPAI KAPAN….( nn/man )
PESAN :
Buang rasa iri hati, cemburu, dendam, egois dan ketakutanmu. Kau akan menemukan bahwa sesungguhnya banyak hal dalam hidupmu tidak sesulit yang kau bayangkan. Sesungguhnya untuk apa, untuk siapa engkau bekerja keras membanting tulang ?? apakah engkau takut akan hilangnya hartamu ?? Percayalah Tuhan-mu tidak akan membuatmu Fakir hanya karena kau sisihkan sedikit waktu untuk orang-orang yang membutuhkanmu.

Salam Hangat

Senin, 15 November 2010

Materi Ahad, 14 Nopember 2010

Menggunakan Kata Tanya  " Kam ", " Limaadzaa ", "Kaifa", " Matta Hadhorta "
Jawaban dari Pertanyaan - pertanyaan tsb bervariasi ( tidak harus terpaku pada buku panduan )
كَم
كَم تَستَغْرِقُ الرِّحْلَةُ إلى مكَّةَ ؟
تَستَغْرِقُ سا عَةً واحدَةً تَغْريْبًا
مِثَال  :
المَدنة / ٣ سا عَةً

كَم تَستَغْرِقُ الرِّحْلَةُ إلى المَدنة ؟
تَستَغْرِقُ ثَلثَ سا عَةً  تَغْريْبًا

الْعِرَاق / ٥ سَاعَاتٍ
كَمْ تَسْتَغرِقُ الرِّحْلَةُ الى ِالْعِرَاق ؟
تَسْتَغرِقُ خَمْسَا سَاعَاتٍ


لِمَاذَا
لِمَاذَا تَرَكْتَ العِرَاقَ ؟
اِنْتَقَلَتِ الشَّرِكَةُ إلى جٌدَّةَ

كَيْفَ
كَيْفَ تَقْظِي الوَقْتَ فِي جُدَّةَ ؟
أَذْهَبُ مَعَ الأسْرَةِ إلى شَاطِىِٔ البَحْرِ

مَتَى حَضَرْتَ
مَتَى حَضَرْتَ مِن ِليَمَنِ ؟
حَضَرْتُ قَبلَ تِسْعِ سَنَوَاتٍ


جَوجَةِ تَعْضَابِينَاماءِ

    " أنَاتَحْزانُ..... يا اخِي" أتَكَلم ماءَ الصّدقِ. " لِمَذَا يَا اخِي رَتْمان ", يَتَكَلمُ.
الأمْسِي الجَّوجَة تَعْضَابِينَا مَاءِ "

. TA لأَِنَ فِي أُسْبُعَيْن أَنَا مَشْقُولُ. لِى جَدْوَالُ  
 أَدْهَبُ إِلَى الشَّارِكَةُ السَّاعَتَ السَّادِسَ كُلُّون يَوْمَان, وَ أَوْبَان أَلسَّاعَتَ سَادِسَ وَ نِسْفُ.
لِى جَدْوَالُ التَعْلِيمُ كَثِيرُون أَيْضَانَ. أَدْهَبُ مِنَ الْبَيةِ كُلُّو لَيْلَاةً.
فِي اليَومَ الأِسْنَان وَ اليَوْمَ الأَرَبِعَ, أَنَا دِرَاشِي الُوغَاةَ الأِنْجِيلِسِ, وَاليَوْمَ الأَحَدُ وَاليَوْمَ السَّلَاسُ أَدْرُوسُ الُغَاةُالأَرَابِيَّا.
فِي اليَوْمَ الخَامِسُ, لِى تَعْلِيمُ فِي Jl.Manggis, وَاليَوْمَ الجُمُوعَةَ, لِى تَعْلِيمُ عَلَ الأَصْضِقَاءِ مِنَ المَعْتَبَةُ. لاَ لِى الوَكْتَ لِلأُسْرَاةِ, مَا رَأْيُكَ فِيْ مُشْكِلَةِ يا أخي ؟.