Biarkan air mata ini mengalir bersama dengan dosa-dosa yang teringat. Lelapkan semua kesemuan dunia yang hanya sementara. Bukalah sedikit matamu untuk melihat dunia yang abadi, telungkupkanlah tanganmu untuk memberi... Berikan senyummu agar orang lain merasakan kabahagiaanmu... mari lukis perasan hati mencintaiNya dengan keimanan dan ketakwaan. Bismillah...

Kamis, 31 Juli 2014

Yang tertinggal dari RAMADHAN...


Oleh : Abu Majid & Komunitas OneDay OneJuz
    Dua hari menjelang Ramadhan berakahir, tiba-tiba ada rasa tidak nyaman yang menjalar dipikiranku, yaa..segumpal rasa yang sulit diungkapkan. Inikah rasa sedih akan perginya Ramadhan ?. Sejenak Aku mencoba kembali menelusuri perjalanan Ramadhan yang telah kulewati. Apakah ada hal istimewa yang telah kulakukan selama hampir sebulan ini ?. Rasanya Ibadah, wiridan, amalan-amalan yang kulakukan masih seperti hari-hari biasa. Lalu apa yang aku dapatkan hingga diujung ramadhan ini ?. 
Mungkin perasaan menyesal seperti itu wajar dan malah mungkin harus menggelayut dipikiran hamba yang sudah memasuki angka 40 seperti ku ini. Karena diusia yang (seharusnya) telah matang ini wajib muncul berbagai pertanyaan; sudah maksimalkah memanfaatkan moment ramadhan ?, adakah perbaikan dari tahun ke tahun ?. Atau rasa sedih karena kita tidak tahu entah masih berapa kesempatan yang diberikan oleh-Nya untuk bertemu Ramadhan-ramadhan berikutnya. Jangan-jangan ini yang terakhir…. Jadi adakah lagi kesempatan untuk menyambut Ramadhan dengan lebih baik ??.
      Ya! Setiap Orang beriman sudah selayaknya merasakan sedih ditinggalkan Ramadhan. Satu bulan mulia yang ternyata berlalu dengan begitu cepat dari hadapan kita.Namun demikian, ditengah kesedihan kita itu, bukan berarti setelah Ramadhan berlalu kita secara keseluruhan melepaskan nilai-nilai yang terkandung didalamnya, dan hanya menyisakan kesedihan karena ramadhan telah kian jauh berlalu. Kalau selama ini kita sering menantikan kehadiran bulan Ramadhan di hari-hari kita, mengapa tidak kita sendiri yang "menjemput"-nya ?. Menjemput seperti apa ? dengan cara memelihara nilai-nilai yang terkandung pada bulan tersebut, membangun suasana ramadhan di sebelas bulan berikutnya dalam kehidupan kita.

Sebenarnya begitu banyak alasan yang menyebabkan kita berharap segera datangnya Ramadhan, diantaranya adalah karena banyaknya amalan yang bisa kita lakukan didalamnya, bagaimana luarbiasanya pahala dari amalan-amalan ramadhan dilipatgandakan sesuai 'mau'-Nya Allah. Namun Jika kita lihat dari segi jumlah, hanya sedikit amalan Ramadhan yang 'hanya bisa' kita lakukan pada bulan tersebut dan tidak bisa kita lakukan pada bulan lain, yaitu: puasa wajib, shalat tarawih, membayar zakat fitrah, dan iktikaf pada 10 malam terakhir.  tetapi sebenarnya bukankah kita bisa melanggengkan ibadah dan amalan-amalan lainya, seperti: Qiyamul Lail (tahajud dan witir), tilawah Quran, bersedekah, membiasakan sholat rawatib, senyum kepada orang lain, menjaga pandangan, menjaga lidah dari ghibah, memperbanyak berbuat kebaikan dan lain-lain, bukankah amalan-amalan tersebut bisa kita lakukan sepanjang waktu dalam kehidupan kita tanpa harus menunggu datangnya ramadhan ?

Saudaraku. Oleh karena itu, mari kita "jemput" amalan-amalan yang kemarin sering kita lakukan pada bulan Ramadhan. Jangan sampai kita beranggapan bahwa  amalan-amalan tersebut hanya sanggup dilakukan saat Ramadhan, sementara jika Ramadhan berakhir, kita tidak mau lagi melaksanakannya. Bahkan, amalan-amalan tersebut mestinya lebih meningkat saat Ramadhan telah berlalu, baik secara kualitas maupun kuantitas, karena jika demikian, kita telah berhasil menjadikan Ramadhan sebagai bulan tarbiyah (pendidikan) bagi kita semua.
Kalau saat Ramadhan kita bisa giat beribadah, mengapa sekarang tidak? apa bedanya ? Bukanlah urusan pahala adalah haknya Allah? Tugas kita hanyalah ikhtiar dan mempersembahkan amalan terbaik kepada Allah dan disertai dengan do'a tentunya.  

Mari kita hitung, Hari ini sudah hari keberapa Ramadhan berlalu ?, bukankah seharusnya sudah sebanyak itu pula hitungan jumlah Juz Alqur'an yang kita khatamkan ?. jika kemarin kita mampu berpuasa 1 bulan penuh, bukankah amatlah ringan kita berpuasa dihari senin dan kamis.. ?. Jika kemarin sebulan kita bisa bertarawih sekian rakaat setiap malam, bukankah sangat ringan kita qiyamul lail 2 rakaat setiap malam ...?? Ilaa Liqo bil Ramadhan 1436 H, Insyaalloh......

Man Jadda wa Jadda...........

Undhur maa Qoola, wa la tandhur man Qoola.....

Senin, 26 Mei 2014

ODOJ dan ODHALF..


ODOJ                     : ONEDAY-ONE JUZ
ODHALF               : ONEDAY HALF JUZ

    RUMAH QUR’AN. Komunitas Pecinta Qur’an yang menggagas berdirinya program ODOJ benar-benar komitmen dengan tujuan utama dibentuknya komunitas ini. Tujuan membumikan Al-Qur’an di hati, Melangitkan Manusia menjadikan Insan-insan menyadari apa arti hidup didunia ini. Seberapapun kekayaan, setinggi apapun jabatan, seelok apapun paras. Semua itu tak khan ada yang kita bawa manakala kita menghadapi sakaratul maut, menuju kepada-Nya.
Ber-Oneday-OneJuz memang membutuhkan proses. Bukan hanya kemampuan membaca Al-Qur’an, tetapi komitmen terhadapnya menjadi penentu keexisan seorang Odojer (sebutan bagi komunitas ini). Berapa banyak diantara kita yang mahir membaca Qur’an, berapa banyak diantara kita yang tahu pentingnya mentadaburi Qur’an, tetapi banyak diantaranya yang “TIDAK MAMPU” untuk bergabung dengan Komunitas ini.
ODHALF , adalah Terobosan baru dari Rumah Qur’an yang bertujuan meng-akomodir para “SIBUKer” (sebutan bagi orang-orang yang super sibuk) agar tetap dapat ambil bagian dalam Dakwah ini, agar dapat bergabung dan memiliki komitment terhadap Kitab Suci Al-Qur’an meski disela-sela padatnya kesibukan mereka.
ODHALF : 1 Hari setengah Juz adalah realistis sekali bagi kita yang memiliki kesibukan luar biasa, baik sibuk dengan pekerjaan, keluarga maupun urusan duniawi lainya.
Lebih realistis apabila dikaitkan denga waktu untuk bertilawah ½ Juz sehari. Perhitunganya adalah sbb:
1 JUZ                          : 10 lembar (20 halaman)
½ JUZ                         : 5 lembar (10 halaman)
1 halaman                    : 2 menit ( 10 halaman = 20 menit)
1 Hari (24 Jam)           : Dari 24 jam waktu kita, hanya butuh menisihkan 20 menit per hari
1 hari ( 5 X sholat )      :20 menit / 5 = 4 menit
Jadi untuk Tilawah ½ JUZ per hari, kita hanya butuh waktu 4 menit setiap waktu sholat, jika di perinci maka kita butuh 2 menit sebelum sholat dan 2 menit setelah sholat. Tanpa terasa kita akan menyelesaikan ½ JUZ per hari.
Waktu yang sangat sedikit jika dibandingkan kesibukan kita meeting dengan kolega, makan siang dengan rekan kerja atau lebih extreme hanya “secuil” jika disbanding waktu tidur kita. Namun waktu yang sedikit tersebut ternyata yang akan diperhitungkan oleh Alloh kelak di hari kiamat.
Adakah diantara kita yang masih belum bisa meluangkan waktu 2 menit sebelum/setelah sholat ??

Jumat, 16 Mei 2014

Wisata Lembang-Bandung

Tulisan dibawah ini hanya Copas dari blog sebelah, Nanti pas nengok anak di Nurul Fikri lembang rencana mau ngunjungi satu per satu...

Tempat Wisata di Lembang Rekomendasi Untuk Keluarga

   Jika kita berbicara tempat wisata di Bandung sangat banyak sekali tentunya, kali ini saya akan bahas khusus tempat wisata di Lembang. Bahasan kali ini khusus hanya di Lembang karena di lembang juga ada beberapa tempat wisata yang bisa Anda kunjungi. Berdasarkan hasil survey di Lembang ada 4 tempat wisata yang menjadi primadona para wisatawan. Di Lembang terdapat wisata Alam dan wisata pendidikan. Pendukung Lembang menjadi tempat wisata primadona karena di Lembang memiliki udara yang dingin dan segar,  karena Lembang merupakan dataran tinggi. Bagi Anda yang ingin berwisata ke daerah Lembang apalagi ada rencana menginap, jangan lupa bawa jaket ya. Berikut ini 4 tempat wisata di Lembang yang direkomendasikan untuk Anda dan Keluarga.

Gunung Tangkuban Perahu

tempat wisata di lembang
Disebut tangkuban perahu karena bentuk gunung memang seperti perahu “nangkub” yang artinya perahu terbalik. Awalnya adalah sebuah gunung yang besar yang mengalami erupsi atau ledakan yang dahsyat dan akhirnya membentuk kawah yang sangat besar. Gunung Tangkuban perahu adalah gunung yang masih aktif akan tetapi meskipun begitu Gunung ini tetap dijadikan tempat wisata karena sudah disediakan pengaman dan pendeteksi keaktifan gunung. Jika gunung mengeluarkan tanda-tanda erupsi maka kawasan wisata ditutup sementara waktu sampai kondisinya benar-benar aman.
Kawasan kawah yang besar memberikan pemandangan yang sangat menarik berupa panorama alam bandung dan panorama kawah bekas letusan gunung. Kita berjalan jalan di sekitar lereng kawah dan menikmati suasana dingin dan berasap karena gunung masih mengeluarkan asap. Jika pagi hari suhu udara sangat dingin, maka bagi Anda yang cukup sensitif dengan dingin sebaiknya membawa jaket yang tebal. Tempat ini sangat cocok untuk sesi berfoto dengan background pemandangan yang menawan. Oiya jika ingin preweding disinipun itu sangat direkomendasikan. Di daerah wiasata ini juga terdapat aneka jajanan dan penjual aneka oleh oleh cendera mata.

Maribaya

tempat wisata di lembang
Tempat wisata di lembang berikutnya adalah Maribaya yang jaraknya kurang lebih 15 Km dari Kota Bandung ke arah utara. Maribaya adalah obyek wisata alam air panas yang biasanya banyak dikunjungi oleh para wisatawan di hari-hari libur. Tempat wisata ini terkenal juga dengan air terjun yang disebut curug maribaya air terjun ini merupakan air panas yang bersumber dari dalam perut bumi. Di kawasan wisata ini juga sudah disediakan kolam renang air panas dan pemandian air panas. Hawa di kawasan ini termasuk dingin karena masih daerah dataran tinggi. Suasana dingin ini akan lebih mantap jika setelah berendam atau berenang di air panda langsung memakan jagung bakar atau ketan bakar, dijamin maknyuss..

Observatorium Bosscha

tempat wisata di lembang
Observatorium Bosscha adalah tempat untuk melihat angkasa dengan menggunakan teropong bintang atau teloskop. Jika Anda ingin mengunjungi Bosscha jangan berfikir bahwa di sana terdapat pamandangan yang indah seperti wisata alam, karena yang bisa dilihat disana adalah bangunan-bangunan tua peninggalan Belanda. Begitupun sarana yang dan prasaranan seperti kamar mandi dan tempat jajan minim sekali. Bosscha adalah tempat wisata untuk pendidikan yang membuka cakrawala kita tentang luar Angkasa. Di Bosscha ada beberapa jenis teleskop yaitu ; Teleskop Schdmit Bima Sakti untuk mengetahui dan mempelajari struktur galaksi Bima Sakti, Teleskop Zeiss untuk mengamati kawah bulan Planet Mars, Saturnus, dan Jupiter, Teleskop Cassegrain Goto untuk pengamatan spektrum bintang, Teleskop Refraktor Bamberg untuk mengukur terang bintang,  dan Teleskop Refraktor Unitron untuk pemotretan bintik matahari.
Bosscha tidak bisa dikunjungi setiap hari, oleh karena itu untuk berkunjung kesini dengan sistem booking yaitu Anda harus memesan tiket terlebih dahulu dengan menghubungi observatorium di nomor 022-2786001 atau via email ke kunjungan@as.itb.ac.id. Ada dua jam kunjungan yaitu kunjungan siang dan kunjungan malam. Kunjungan siang dari jam 09.00-13.00 dan kunjungan malam jam 17.00-20.00. Lebih baik jika ingin melihat luar angkasa pada kunjungan mala
 
D’Ranch
tempat rekreasi di bandung
Satu lagi tempat wisata di Lembang yang tidak kalah menariknya adalah d’Ranch. Ini merupakan tempat wisata keluarga dengan menyajikan tema peternakan ala Amerika yang ciri khasnya adalah koboi. Nuansa petrernakan ala amerika akan dirasakan dalam berbagai fasilitas yang ada di sana. Pengunjung bisa berperan sebagai seorang koboi yang mengawasi peternakan dengan atribut koboi yang lengkap mulai dari topi hingga sepatu. D ranch memiliki konsep food, leisure and education, artinya mengedepankan wisata untuk makanan, waktu luang dan pendidikan. Di sana terdapat berbagai jenis makanan mulai dari makanan gaya amerika sampai makanan tradisional khas bandung. Selain itu terdapat berbagai wahana permainan yang sangat cocok untuk keluarga atau anak-anak Anda. Beberapa wahana yang ada di sana diantaranya: berkuda, flying fox, gerobak domba, kereta powpow, trampoline, balon air, fun boat, motor baterai, sepeda track, speda anak, kolam pancing, ATV, delman dan lain-lain.
Nah itulah beberapa informasi tentang tempat wisata di Lembang. Silahkan Anda menikmati tempat-tempat tersebut bersama Keluarga Tercinta. Semoga bermanfaat

Jumat, 09 Mei 2014

Qur'an "BUKAN" Barang Istimewa...


Ini hanyalah tentang Qur’an.
   Tidak Istimewa Khan, Siapa yang bilang Qur’an Istimewa ? 
Siapa yang bisa menjelaskan kalau Qur'an Istimewa ?

Sesuatu yang Istimewa bagi kita tentulah "Ia" yang akan sering kita rindukan, yang sering kita pandang, yang sering kita pegang, yang sering kita buka, yang sering kita baca, yang sering..dan sering lainya. Intinya kita selalu ingin berinteraksi dengannya, selalu kita nikmati baik melalui nikmat pendengaran, nikmat pandangan dan sebagainya.

  Qur’an itu HANYA buku, sama dengan buku-buku lainnya…setuju ??.
  Apa Istimewanya Qur’an dibanding buku-buku lain di Rak lemari kita?
Dia sama berjejer rapi seperti buku-buku lainnya.
Dia masih terlihat mulus sama dengan buku-buku lainya meski sudah sekian tahun disitu.

Lalu..Dimana Istimewanya Qur’an yang sebagai Kitab Suci-nya Umat Islam ??
Ada yang tahu bagaimana cara meng-istimewakan dan  menghormati Qur’an sebagai kitab Suci..
Bagaimana kalau kita sama-sama berpikir untuk mencoba mencari cara mengistimewakannya ..
Hemm..…kira –kira saat ini yang Istimewa bagi kita apa ya..? 
Istri ? ahh.....bohong..!!
Tetangga..? tambah bohong..!! Jabatan...?? Bukan juga..
HP ??....kayaknya barang ini deh yang paling istimewa dalam hidup kita sekarang ini…Ada yang nggak setuju...? Semua pasti setuju...

    
Pernahkah kamu berpikir andai kita perlakukan Al-Qur'an seperti halnya HP kita saat ini..?
 
Lihat...
Bagaimana kalau kita selalu membawanya kemanapun kita pergi??? dalam tas  & saku?
Bagaimana jika kita selalu melihatnya, membaca pesan-pesannya  beberapa kali dalam sehari?
Betapa kita gugup, gelisah, terburu-buru balik kerumah saat lupa membawanya?
Satu hari tanpa HP..? Duhh..kiamaatttBagaimana jika kita memperlakukn Qur'an seolah kita tak bisa hidup tanpanya..?
( Dan sesungguhnya memang benar, kita tak bisa hidup tanpanya...!)


Bagaimana jika kita berikan itu kepada anak-anak kita sebagai hadiah ?
Bagaimana jika kita selalu sempatkan untuk membacanya disaat bepergian ?
Bagaimana jika kita buat dia sebagai prioritas?
        Seperti contoh status berikut :
" Quran is my best friend- Qur'an adalah teman terbaikku..!!
."
Mungkin hanya 7% yg akan menyebarkan pesan ini...
Jadilah salah satu dari mereka &sebarkan  kepada saudara2  muslim lainnya.
Janganlah jadi bagian dari 93% yg enggan myebarkn pesan ini...
Coba pikirkan tentang Hari Pembalasan, sekalipun sekali saja
Kita sadar betul kalau hampir setiap hari HP selalu membuka dan bertukar pesan, SMS-WA-BBM-email dsb. dg teman-teman.
Kita share/forward  guyonan & gosip....

Tapi...,

Berapa kali kita buka Quran dan membaca firman-NYA..?
Jika kamu bersama teman-temanmu  atau keluargamu, bagikan tulisan ini kepada mereka...!!
Terbukti dalam Penelitian :
 
- Mendengarkan Qur'an  mengurangi menyebarnya sel kanker ditubuh manusia bahkan menghancurkannya.
  -
Memanjangkan sujud semakin menguatkan ingatan dan mencegah stroke.

 Setan  berkata: "Aku heran bagaimana bisa manusia mengatakan mereka cinta Allah tapi mengabaikan perintahNya,dan mengklaim benci padaku, tapi nyatanya mereka patuh pada rayuanku! "
 
Jika tidak mau termasuk yang disindir syeitan diatas, Engkau Hanya butuh waktu sebentar untuk menyebarkan pesan ini kepada orang-orang tercinta sebagai Pengingat.
Selanjutnya …Baca Qur’an...baca Qur’an...Baca Qur’an…..

Kalau Pesan Ini tak membekas di hatimu, kau pasti mengira karena Hidayah belum mendatangimu…
Kalau hatimu belum tergerak untuk memulainya, pasti karena kau merasa hidupmu masih akan lama…
Kalau kau masih merasa sibuk hingga seakan tidak punya waktu, pasti karena kau tidak tahu bahwa memang….MANUSIA ITU PENUH KESIBUKAN HINGGA TAK SEMPAT UNTUK MELAKUKAN KEBAJIKAN, SEDANGKAN SYEITAN ITU PENGANGGURAN SEHINGGA PUNYA BANYAK WAKTU UNTUK MENJERUMUSKAN MANUSIA….
KETAHUILAH :
HIDAYAH itu Hak prerogative Alloh dan hanya diberikan kepada yang diKehendakinya,
HIDAYAH itu datang melalui berbagai cara, lewat Ilham,lewat bacaan,lewat SMS-WA-BBM-LINE dll...jadi kalau yang tak mendapat pesan ini berarti tak dikehendaki-Nya.
HIDAYAH itu datang melalui siapa saja, Cobaan, bencana, sahabat, Media dll

“HIDAYAH itu sudah diberikan pada siapa saja, namun kalau kau masih enggan "berbuat" itu karena Kesombonganmu terlalu besar sehingga menutupi Ma’unah dalam hati mu…”

Admin ODOJ 937- Ababil & Al Jihad

Rabu, 02 April 2014

Odoj Vs Bid'ah

One Day One Juz : Bid’ah?

Oleh : Armansyah

Jujur sebenarnya saya enggan untuk menulis artikel ini karena buat saya pribadi rasanya agak berlebihan bila hal seperti ini saja menjadi sesuatu yang kontroversi. Tapi karena kemudian banyak juga pertanyaan yang masuk kepada saya berkaitan hukum mengikuti aktivitas “One Day One Juz” atau yang biasa disingkat ODOJ akibat adanya pandangan miring serta cap bid’ah oleh sejumlah kelompok yang ekstrim dalam agama ini, akhirnya dengan mengucap Bismillah, saya tulis juga dengan harapan semoga bermanfaat untuk semua.
Ikhwan wa Ukhtifillah  rahmatullah ‘alaikum….
Istilah ibadah yang sering kita sebut dalam bahasa Indonesia sebenarnya berasal dari bahasa Arab, عُبُودَة، عُبُودِيَّة، عَبْدِيَّة (‘Abdiyah, ‘Ubudiyah, ‘Ubudah) yang memiliki arti kepatuhan atau ketundukan. Istilah ini juga memiliki pengertian yang sama dalam bahasa Ibrani “Abodah” yang artinya mengabdi.
Tunduk ya artinya merendahkan diri serta mengikuti kehendak sesuatu atau seseorang yang kedudukannya ada diatasnya. Dalam terminologi syara’ atau fiqh, maka yang disebut sebagai ibadah mencakup aktivitas lisan, hati dan perbuatan fisik anggota tubuh yang dilakukan dalam rangka mencari ridho Allah yang didalamnya terdapat rasa khouf (takut), roja’ (mengharap), mahabbah (cinta), tawakkal (ketergantungan) dan roghbah (senang). Intinya, semua dilakukan sebagai bentuk abdi atau penghambaan makhluk kepada Allah selaku al-Kholiq.
Inilah memang yang menjadi hakekat dasar penciptaan manusia.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ 
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rizki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku. Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi rizki Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” [Adz-Dzaariyaat: 56-58]
Istilah ibadah menjadi istilah yang sangat umum sifatnya, sehingga kemudian para ulama membagi aktivitas ibadah menjadi dua kategori, yaitu ibadah mahdhoh dan ada pula ibadah ghoiru mahdhoh
Maksud dari ibadah mahdhoh adalah aktivitas ibadah yang cara pelaksanaannya maupun waktu-waktunya secara khusus telah ditentukan atau diatur oleh Allah melalui lisan Nabi-Nya. Misalnya Sholat, Puasa, Haji, Dzakat, Berwudhu dan seterusnya.
Sedangkan ibadah ghoiru mahdhoh adalah aktivitas ibadah yang cara dan waktu pelaksanaannya tidak baku, saklek atau pasti. , namun tetap ada syari’at yang menjadi landasan perbuatannya. Hal ini bisa dicontohkan seperti melakukan sedekah secara umum diluar dzakat, silaturahim, berdzikir, berdakwah, mengajar, gotong-royong dan ibadah mu’amalah lain yang inti tujuannya tetap untuk ber-taqorrub ilallah dan mencariridhotillah.
Kesalahan yang sering terjadi adalah kita acapkali merancukan antara ibadah mahdhoh dan ibadah ghoiru mahdhoh sehingga penjatuhan hukumnyapun menjadi keliru. Sebagai konsekwensi kekeliruan pemberian hukum ini muncullah kontroversi dan kekacauan ditengah umat, khususnya kalangan akar rumput yang masih belajar. 
Timbullah fatwa-fatwa yang tidak populer dengan menyebutkan aktivitas tertentu sebagai perbuatan bid’ah. Sedikit-sedikit bid’ah dan ujung-ujungnya di cap sebagai kafir sebab dimunculkan anggapan pelakunya melakukan kekufuran atas syariat.

Ya disini saya tidak ingin menyebut nama kelompok atau jemaah tertentu yang sering secara ekstrim dan serampangan melakukan hal-hal seperti yang sudah saya sebutkan tadi. Saya berusaha menghindari konflik yang tidak perlu namun tetap bersifat keras dan tegas.
Jadi bila ada kelompok, komunitas, jemaah ataupun sekte yang merasa tersinggung dengan tulisan saya serta pemahaman saya dalam beragama ini, mohon maaf lahir dan batin sajalah. Tak perlu ribut dan saling memaksakan paham. Jika anda setuju ya silahkan ikuti tapi bila tidak suka, ya lakukanlah apa yang menurut anda sebagai suatu kebenaran. Nafsi-nafsi intinya.
Balik lagi pada ibadah ghoiru mahdhoh, tentu ada kriteria serta batasannya juga yang wajib diketahui sehingga tidak terjebak pada perbuatan bid’ah yang sesungguhnya. Diantaranya adalah:
Tidak adanya dalil baik dari Alquran dan pun Nabi yang melarang melakukan ibadah ghoiru mahdhoh tadi. Artinya, selama Allah dan Rasul-Nya tidak melarang atau mengharamkan aktivitas itu maka ibadah bentuk ini boleh dilaksanakan.
Model, cara, pola ataupun bentuk pelaksanaan ibadah tersebut tidak selalu harus persis sama seperti apa yang dilakukan oleh Nabi sebagaimana diketahui melalui banyak riwayat hadist dan siroh nabawiyah. Misalnya, cara berinfaq, bersedekah, penggunaan media dakwah, proses serta metode belajar-mengajar, berdzikir dan lain sebagainya.
Ibadah yang dilakukanitu haruslah aktivitas yang sifatnya logis, rasional atau dapat dipahai secara akal sehat. Sehingga baik atau buruk, untung atau pun rugi, benar atau salah, bermanfaat atau mengandung mudharat, semuanya dapat dilihat dan ditimbang secara langsung tanpa harus ada perdebatan dikalangan orang-orang yang berakal. 
Nah, rasanya sebagai pengantar cukuplah sampai disini bahasan tentang ibadah mahdhoh dan ghoiru mahdhoh. Kita masuk dalam inti permasalahan yang hendak dibahas yaitu hukum pelaksanaan pengajian al-Qur’an dengan metode: One Day One Juz.
ODOJ
Apakah ODOJ ini masuk dalam klasifikasi ibadah mahdhoh ataukah ghoiru mahdhoh? 
Adakah cara-cara membaca al-Qur’an diatur secara khusus dalam nash syar’iat? maka jawabnya ada, bahkan dalilnya jelas, tegas dan kuat dari kitabullah. Maka dari itu hukum cara mengaji dengan pengertian disini membaca huruf-huruf al-Qur’an masuk kedalam ibadah mahdhoh.
Allah berfirman:
“Dan bacalah Al Qur’an itu dengan tartil.” (QS Al Muzzammil 73:4)
Ibnu Katsir menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan tartil adalah membaca dengan perlahan-lahan dan hati-hati karena hal itu akan membantu pemahaman serta perenungan terhadap al-Qur’an. Membaca tartil juga pada tingkatan lebih jauh dapat dimaknai dengan memahami makhorijul huruf (tempat keluar-masuk huruf), shifatul huruf (cara pengucapan huruf), ahkamul huruf (hubungan antar huruf), ahkamul maddi wal qasr (panjang dan pendek ucapan) hingga ahkamul waqof wal ibtida’ (memulai dan menghentikan bacaan) yang semua itu tercakup dalam ilmu tajwid.
Dalam ayat lain disebutkan juga:
“Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al Qur’an.” (QS Thaha 20:114)
Ada juga beberapa riwayat bercerita:
Sunan Abu Daud 1252: Telah menceritakan kepada Kami Musaddad telah menceritakan kepada Kami Yahya dari Sufyan, telah menceritakan kepadaku ‘Ashim bin Bahdalah dari Zirr dari Abdullah bin ‘Amr, ia berkata; Rasulullah shallAllahu wa’alaihi wa sallam bersabda: “Dikatakan kepada orang yang membaca Al Qur’an: “Bacalah, dan naiklah, serta bacalah dengan tartil (jangan terburu-buru), sebagaimana engkau membaca dengan tartil di dunia, sesungguhnya tempatmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca.”
Sunan Abu Daud 1258: Telah menceritakan kepada Kami Abdul A’la bin Hammad, telah menceritakan Abdul Jabbar bin Al Ward, ia berkata; saya mendengar Ibnu Abu Mulaikah berkata; Ubaidullah bin Abu Yazid berkata; Abu Lubabah lewat didepan Kami, lalu Kami mengikutinya hingga dia masuk ke rumahnya dan Kamipun masuk menemuinya, ternyata ia adalah seorang laki-laki perabotan rumahnya sedikit dan kondisinya memburuk, kemudian aku mendengar dia berkata; aku mendengar Rasulullah shallAllahu wa’alaihi wa sallam bersabda: “Bukan dari golongan Kami orang yang tidak memperindah bacaan Al Qur’an.” Abdul Jabbar berkata; aku bertanya kepada Ibnu Abu Malikah; wahai Abu Muhammad, bagaimana pendapatmu apabila ia tidak bagus suaranya? Ia menjawab; ia perindah suaranya semampunya. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sulaiman Al Anbari, ia berkata; Waki’ dan Ibnu ‘Uyainah berkata; yaitu ia menyibukkan dengan Al Qur’an.
Sunan Nasa’i 1640: Telah mengabarkan kepada kami Qutaibah dari Malik dari Ibnu Syihab dari As Saib bin Yazid dari Al Muththalib bin Abu Wada’ah dari Hafshah dia berkata; “Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat sunnah sambil duduk, hingga menjelang setahun sebelum beliau wafat, (saat itu) beliau sering shalat sambil duduk, membaca surah Al Qur’an dengan tartil, sampai-sampai beliau memperlama dalam membacanya.” 
Jadi ada dua hal yang diatur oleh Allah melalui kitab-Nya mengenai membaca al-Qur’an yaitu harus tartil dan tidak boleh terburu-buru. Hal ini bisa kita pahami karena al-Qur’an berfungsi sebagai al-Huda, hudan lil muttaqin, petunjuk bagi orang yang bertaqwa pada Allah. Jika membacanya serampangan asal jadi saja, bagaimana mungkin al-Qur’an dapat menjadi petunjuk dan pedoman?
Yang ada kita justru menjadikan bacaan al-Qur’an sebagai mantra alakadzam. :-)
Oke insyaAllah dapat dipahami ya sejauh ini….
Sekarang, bagaimana dengan metode tilawah One Day One Juz? dimana setiap orang dari anggotanya atau member dipaksakan untuk mengkhatamkan setiap harinya satu, one, (1) juz ? setelah khotam kemudian setiap orang melapor dengan aplikasi WhatsApp sehingga pada hari itu ke-30 anggota masing-masing khotam 1 juz al-Qur’an dan ditotal secara keseluruhan khotam 30 juz setiap hari. Apakah ini tidak menyalahi contoh Nabi? Bukankah ini Bid’ah?
Nah jawabnya balik dulu nih… diluar tata cara membaca al-Qur’an yang sudah kita bahas tadi, adakah sekarang ini metode tilawahan komunitas One Day One Juz alias ODOJ itu masuk dalam kategori ibadah mahdhoh ataukah ghoiru mahdhoh?
Setahu saya, Rasul tidak pernah memberi “aturan main” secara detil mengenai metode teknis pengkhotaman kitabullah. Jadi dengan kata lain, sifatnya fleksibel. Artinya ini masuk dalam wilayah ibadah ghoiru mahdhoh.
Bid’ahkah?
Sst, nanti dulu main bid’ah ini… yuk baca dulu riwayat berikut:
Sunan Tirmidzi 2870: Dari Abu Burdah dari Abdullah bin ‘Amru ia berkata; Aku berkata; “Wahai Rasulullah, seberapa lama aku harus menghatamkan al-Qur’an?” Beliau menjawab: “Khatamkan setiap bulan.” Aku berkata; “Aku bisa lebih mampu dan lebih baik dari itu.” Beliau bersabda: “Khatamkan dalam duapuluh hari.” Aku berkata; “Aku bisa lebih baik dari itu.” Beliau bersabda: “Khatamkan dalam limabelas hari.” Aku berkata; “Aku bisa lebih baik dari itu.” Beliau bersabda: “Khatamkan dalam sepuluh hari.” Aku berkata; “Aku dapat lebih baik dari itu.” Beliau bersabda: “Khatamkan dalam lima hari.” Abdullah berkata; “Setelah itu beliau tidak memberiku keringanan.”
Abu Isa berkata; Hadits ini hasan shahih, dinilai gharib dari hadits Abu Burdah dari Abdullah bin ‘Amru. Hadits ini juga diriwayatkan melalui sanad lain dari Abdullah bin ‘Amru.
Dan diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amru dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidaklah dapat memahaminya orang yang membaca (mengkhatamkan) al-Qur’an kurang dari tiga hari.” Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amru bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda padanya: “Bacalah (khatamkan) al-Qur’an dalam empatpuluh hari.” Ishaq bin Ibrahim berkata; “Berdasarkan hadits ini, maka kami tidak suka bila empatpuluh hari berlalu dari seseorang, sementara dirinya belum pernah mengkhatamkan al-Qur’an. Sebagaian ulama menyatakan bahwa al-Qur’an tidak dihatamkan kurang dari tiga hari, berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sementara sebagaian ulama yang lain memberi keringanan dalam hal ini. Diriwayatkan dari Utsman bin Affan bahwa ia menghatamkan al-Qur’an dalam satu rakaat witir.” Diriwayatkan dari Sa’ii bin Jubair, bahwa ia mengkhatamkan al-Qur’an dalam satu rakaat di (samping) ka’bah. Dan para ulama lebih menyukai membaca secara tartil.
Dari riwayat diatas jelas kita tidak dapat menyalahkan metode ODOJ yang mengkhatamkan al-Qur’an satu juz setiap membernya dalam satu hari. Terlalu lemah dan pagi untuk membatilkannya sementara ada nash agama yang mencondonginya. Saya percaya bahwa sekecil apa pun kebaikan yang kita lakukan, pasti Allah memberikan balasan yang berlipat ganda, lihat dalam Q.S. an-Nisa [4: 20]. Saya juga percaya bila aktivitas ODOJ, selama memperhatikan aturan main pembacaan al-Qur’an, bukanlah merupakan ibadah yang sia-sia atau bid’ah.
Pelaksanaan ODOJ justru dapat disebut sebagai penemuan baru dalam aktivitas pengkhotaman kitabullah dikalangan muslim. Selain itu, konsekwensi positip yang juga tidak dapat ditolak adalah unsur silaturahim antar ikhwan dan ukhtifillah sekaligus cara mendekatkan umat pada kitabullah.
Problem umat Islam sekarang ini sangatlah kompleks dan jangan hal itu dinafikan dengan membid’ahkan segala sesuatu yang tak sepaham dengan pemikiran dan paradigma kita. Generasi muda Islam hari ini, terutama mereka yang tinggal di perkotaan, sudah cukup jauh dari al-Qur’an. Mereka lebih dekat pada musik dan sinetron serta film-film barat yang penuh dengan action dan seksualitas.
ODOJ menjadi alternatif cara mendekatkan kembali generasi muda Islam pada al-Qur’an, dari dekat mudah-mudahan timbul senang dan cinta. Dari sini mudah-mudahan lagi bi-idznillah, mereka akan tergiring untuk memahami lalu mengamalkan isinya.
Akhirnya, hukum mengikuti One Day One Juz adalah tidak terlarang apalagi menjadi Bid’ah, kecuali anda melakukannya dalam toilet atau sambil berzinah.
Musnad Ahmad 22201: Telah menceritakan kepada kami Wahab bin Jarir telah bercerita kepada kami Hisyam bin Hassan dari Muhammad dari Abu ‘Ubaidah bin Hudzaifah dari Hudzaifah bin Al Yaman berkata; Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Barangsiapa memberi contoh kebaikan dan diikuti orang, ia mendapatkan pahalanya dan pahala-pahala orang yang mengikutinya tanpa dikurangi dari pahala mereka sedikit pun, sebaliknya barangsiapa memberi contoh keburukan lalu diikuti orang, maka ia mendapatkan dosanya dan dosa-dosa orang yang mengikutinya tanpa dikurangi dosa mereka sedikitpun.”
Tapi pak, kebanyakan para Odojers malah mengajinya sendiri-sendiri ditempat mereka dan tidak ada orang yang menjadi supervisor atau mengawasi bacaannya sehingga kecenderungan salah baca secara tajwid tetap terbuka. 
Oke, saya paham dan dapat menerima argumen ini. Memang semestinya kita membaca al-Qur’an dengan tartil tadi khan? Tapi untuk tahap awal, mari azamkan dulu metode ODOJ ini sebagai bentuk pendekatan awal pada tahapan selanjutnya dalam membaca al-Qur’an. Biasakan dulu lidah kita basah oleh ayat-ayat-Nya. Apalagi kita juga adalah bangsa ‘Ajam, orang yang asing dalam berbicara bahasa Arab. Setelah biasa membaca huruf-huruf hijaiyyahnya baru kita baguskan bacaan tersebut.
Lalu bagaimana dengan kemungkinan ibadah ini menjadi riyak pak?
Nah, jawabnya… biar puas baca tulisan saya khusus tentang riyak saja ya.
Bismillah.
Saya yakin kecenderungan saya ini, banyak yang tidak sependapat, tetapi Insya Allah alasan yang saya kemukakan termasuk hal yang logis dan memiliki sandaran dalil yang kokoh.
Setuju dan tidak setuju adalah hal yang wajar terjadi, saya tidak harus selalu sependapat dengan anda atau siapapun dalam memahami agama Allah ini. 
Least but not Last, harus dimaklumi pula bila ODOJ pada hakekatnya hanyalah salah satu metode untuk mendekatkan umat pada al-Qur’an. Membiasakan umat untuk membaca al-Qur’an. Membiasakan lidah-lidah kaum ‘ajam ini untuk melantunkan huruf-huruf hijaiyyah yang tak biasa diucap oleh lisan-lisan mereka. 
Pada tataran lebih jauh, ODOJ cuma opsional. Para santri di pesantren misalnya, mereka sudah masuk dalam tahapan mengkaji bukan lagi mengaji. Bacaan mereka sudah bukan lagi satu juz sehari tapi sudah berjuz-juz dalam tiap waktunya, bahkan boleh jadi mereka sudah masuk dalam metode penghafidzan al-Qur’an. Jadi bila kita merasa tingkat interaksi kita terhadap kitabullah sudah pada tatanan mengkaji, ya ODOJ bisa saja sangat opsional sifatnya. 
Faya ayyuhalmuslimuunal kirom.
Usikum Wa Iyyaya Bi Taqwallah wa akhussukum ‘ala tho’atihi.
Faqod Fazal Muttaqun.
Palembang, 24 Pebruari 2014

Mgs. Armansyah Sutan Sampono Azmatkhan
#Anggota ODOJ 505